DESA PANJALU KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

Mangan Karana Halal, Pake Karana Suci, Ucap Lampah Sabenere

Seni Manuk Hahayaman Kritik Panjalu Atas Kerusakan Lingkungan

si raja manuk hahayaman panjalu

si raja manuk hahayaman panjalu

Dua ekor burung onta setinggi tiga meter menyeruak di antara kerumunan penonton pentas seni budaya sunda karuhun. Warnanya hitam dengan paduan putih di leher menambah kesan elok sang burung. Penonton segera meresponnya dengan keluarkan kamera untuk memotret.

Sang burung mendekati kerumunan puluhan anak yang tengah bermain. Mereka terlihat takut dan lari berhamburan. Namun, kengerian itu hanya berlangsung singkat. Anak-anak mulai akrab karena tak ada tanda-tanda si burung untuk menyakiti. Sebaliknya, burung sangat bersahabat.

Selanjutnya burung menjadi teman bermain baru anak-anak. Kesan takut menghilang tergantikan dengan rasa cinta. Anak-anak menari dan bergantian naik ke punggung burung. Mereka larut dalam luapan rasa gembira dan suka cinta. Burung adalah teman bagi anak-anak.

Demikian pesan yang ingin disampaikan dalam pentas Manuk Hahayaman di Festival Budaya Sunda Karuhun di Alun-alun Panjalu, Ciamis, Minggu (3/1/2013). Pentas dilakukan oleh Komunitas Anak Ibu (KAI) Panjalu. Selain itu ada pentas karinding multitalentong, kohkol calingkung, permainan anak sunda kolot, dan calung. Festival itu merupakan rangkaian dari upacara nyangku yang berlangsung dari 1-4 Februari 2013.

Ganda Suhanda merupakan sosok penting dalam pentas itu. Mang Ganda, panggilan akrab Ganda Suhanda, merupakan budayawan Panjalu yang mengarsiteki pentas itu. Dia juga membidani lahirnya KAI Panjalu sebagai komunitas yang kreatif dan produktif dalam bidang pengembangan seni dan budaya.

Gagasan Manuk Hahayaman lahir dari kerisauannya kerusakan alam di daerahnya. Dia ingin menyampaikan kerusakan lingkungan sangat parah ditandai dengan menghilangnya burung-burung.

“Saya pilih burung onta untuk menunjukkan hilangnya burung di wilayah Panjalu. Burung menghilang akibat kerusakan ekosistem, habitat, dan praktik perburuan oleh masyarakat. Suatu saat, untuk melihat burung kita harus impor dari daerah lain. Burung onta kan burung impor,” jelasnya.

Hilangnya burung-burung di wilayah Panjalu disebabkan cara pandang antroposentris yang berlebihan. Manusia memang menempati posisi puncak di dunia, tapi manusia tidak bisa menempatkan alam sebagai objek yang harus dieksploitatif.Bagi Mang Ganda harus memastikan keharmonisan antaraspek kosmos tetap terjaga.

“Hidup manusia tak bisa dilepaskan dari kondisi alam. Dia meyakini hubungan harmonis manusia dan alam membawa hidup yang aman dan tentram,” tambahnya.

Upacara adat nyangku tahun ini makin berwarna dengan hadirnya pentas seni dan budaya sunda yang syarat pesan moral. Penyampaian pesan melalui seni dan budaya membuat visualisasi pesan makin mudah diterima pubik. Mari jaga dan tingkatkan kualitas hidup masyarakat Panjalu dengan menjaga alam dari tangan-tangan jahil yang rakus untuk mengekpoitasi sumber daya alam. Alam adalah titipan dari anak cucu warga Panjalu yang harus dijaga tetap lestari.

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Kabar Panjalu. Bookmark the permalink.

3 Responses to Seni Manuk Hahayaman Kritik Panjalu Atas Kerusakan Lingkungan

  1. yossysuparyo berkata:

    ulasan yang bagus untuk sebuah inisiatif seni dan budaya, salut untuk KAI Panjalu

  2. sutardjo berkata:

    Kang Aji kembangkan terus kekuatan tradisi seni dan Budaya menjadi kekuatan desa….semanggattt

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Dokumentasi #Nyangku

    Klik tautan di atas untuk melihat lebih lanjut dokumentasi #Nyangku 2013 di Panjalu

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terakhir

  • pengunjung panjalu.desa.id
  • Meta



  • Desa ini merupakan anggota jaringan :