Di kaki Gunung Sawal, tersembunyi sebuah permata yang tidak hanya memanjakan mata tetapi juga menyimpan filosofi hidup masyarakat Panjalu. Situ Lengkong, danau yang airnya tenang dengan Pulau Nusa Gede di tengahnya, telah menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Panjalu berabad-abad silam. Kini, danau ini memasuki babak baru: bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium hidup bagi praktik pariwisata berkelanjutan.
Apa makna berwisata berkelanjutan di Situ Lengkong? Lebih dari sekadar tren global, ini adalah panggilan untuk menjaga keseimbangan antara kenikmatan pengunjung, kesejahteraan masyarakat lokal, dan kelestarian lingkungan. Artikel ini mengupas tuntas lima pilar keberlanjutan yang diterapkan di kawasan Situ Lengkong, serta mengajak Anda menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Integritas Ekologis: Menjaga Denyut Nadi Danau
Situ Lengkong bukanlah obyek mati. Ia adalah ekosistem hidup yang menopang biota air, rantai pangan, dan keseimbangan hidrologi Desa Panjalu. Pemerintah desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) telah berupaya menerapkan kebijakan restoratif, antara lain:
- Pengurangan sampah plastik di kawasan inti danau, dengan mengimbau pedagang untuk menggunakan kemasan ramah lingkungan.
- Normalisasi berkala danau dan aliran sungai untuk mencegah sedimentasi.
- Pelarangan aktivitas destruktif, seperti menangkap ikan dengan bahan kimia atau membuang limbah domestik ke danau.
Ajakan bagi wisatawan: Bawalah botol minum isi ulang. Jika Anda menemukan sampah di tepian danau, laporkan segera ke petugas atau, jika memungkinkan, bantu angkat ke tempat yang telah disediakan.
Keadilan Ekonomi: Memastikan Manfaat Sampai ke Pelaku Lokal
Pariwisata berkelanjutan menolak kebocoran ekonomi. Di Situ Lengkong, sebagian pendapatan dari tiket masuk, sewa perahu, dan retribusi dikelola melalui BUMDes untuk mendukung:
- Pengupahan pengemudi perahu lokal.
- Pendanaan pelatihan keterampilan pariwisata, seperti pemanduan wisata, pengelolaan homestay, dan kuliner higienis.
- Pemberdayaan UMKM di sekitar kawasan, termasuk kerajinan lokal dan makanan khas Panjalu.
Ketika Anda membeli jajanan dari pedagang di dermaga atau menyewa perahu dari pemuda setempat, Anda turut berkontribusi pada perekonomian desa.
Ajakan bagi wisatawan: Utamakan membeli dari pedagang lokal. Gunakan jasa pemandu lokal untuk mendapatkan narasi sejarah yang autentik sekaligus menambah penghasilan warga.
Pelestarian Budaya dan Spiritualitas: Menghormati Warisan yang Hidup
Situ Lengkong tidak bisa dipisahkan dari Pulau Nusa Gede, tempat bersemayam makam leluhur Kerajaan Panjalu, termasuk Prabu Borosngora. Di sinilah nilai spiritual dan budaya menjadi batas tak tertulis. Pemerintah desa bersama lembaga adat menetapkan protokol yang menghormati kesakralan tersebut:
- Wajib berpakaian sopan (menutup aurat) sebelum menginjakkan kaki di pulau.
- Larangan bersikap gaduh, merokok, atau mengonsumsi minuman keras di area makam dan tempat ibadah.
- Izin tertulis diperlukan untuk kegiatan penelitian atau pengambilan gambar komersial yang melibatkan situs adat.
Ajakan bagi wisatawan: Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita dari juru kunci atau tetua adat yang bertugas. Tanyakan filosofi di balik arsitektur pulau dan asal-usul nama Situ Lengkong.
Slow Tourism dan Ekowisata: Mengubah Cara Anda Berwisata
Situ Lengkong mendorong gaya slow tourism—wisata yang menekankan kualitas, durasi, dan kedalaman interaksi. Beberapa inisiatif yang telah berjalan antara lain:
- Tersedia jalur sepeda dan trekking menuju kawasan sekitar seperti Pasir Haur dan Situ Mundu.
- Tersedia homestay desa untuk pengalaman menginap yang lebih lama dan mendalam.
- Terdapat program edukasi alam, seperti menanam pohon di zona penyangga atau belajar membuat kerajinan ecoprint dari warga.
Dengan menginap lebih lama, wisatawan dapat menikmati ketenangan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi desa tanpa perlu menambah jumlah pengunjung secara massal.
Ajakan bagi wisatawan: Rencanakan kunjungan di hari kerja untuk menghindari kepadatan akhir pekan jika memungkinkan. Pesan homestay setidaknya satu malam. Nikmati matahari terbit dari dermaga timur.
Transparansi dan Partisipasi Publik: Membangun Kepercayaan
Keberlanjutan tidak akan berkelanjutan tanpa akuntabilitas. Website resmi panjalu.desa.id berfungsi sebagai salah satu sarana publikasi informasi, termasuk:
- Laporan penggunaan dana retribusi wisata secara periodik.
- Rencana kegiatan konservasi danau.
- Kalender kegiatan gotong royong, yang kadang terbuka bagi wisatawan yang ingin ikut serta.
Wisatawan juga diberi ruang untuk memberi masukan melalui kontak resmi yang tersedia di website desa.
Ajakan bagi wisatawan: Setelah berkunjung, sampaikan saran Anda melalui kanal resmi yang telah disediakan. Partisipasi Anda sangat berarti.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Situ Lengkong telah bertahan lama—melalui kejayaan kerajaan, masa kritis, dan kini kebangkitan dengan kesadaran baru. Para sesepuh Desa Panjalu memiliki filosofi bahwa setiap generasi wajib mewariskan keadaan yang lebih baik kepada generasi mendatang. Filosofi itu diwujudkan dalam setiap upaya pengelolaan wisata berkelanjutan.
Dengan memilih untuk berwisata secara bertanggung jawab, Anda bukan sekadar pengunjung. Anda adalah mata rantai yang menyambung masa lalu, masa kini, dan masa depan.
