Menemukan Kembali Situ Lengkong Panjalu: Kawasan Cagar Alam di Kaki Gunung Sawal

Menemukan Kembali Situ Lengkong Panjalu: Kawasan Cagar Alam di Kaki Gunung Sawal

Fakta Cepat

ItemKeterangan
LokasiDesa Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
StatusCagar alam sejak 21 Februari 1919 (SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 6)
Luas danau57,95 hektare
Luas kawasan inti lindung16 hektare
Pulau di tengah danauNusa Gede (9,25 hektare)
Ketinggian731 mdpl
Tiket masukRp10.000 per orang (termasuk asuransi)
Sewa perahu PPRp15.000 per orang (minimum 20 orang)
Waktu terbaik berkunjungPagi 05.30–09.00 atau sore 15.00–17.00 WIB
Kontak resmipanjalu.desa.id

Catatan: Data luas dan status kawasan merujuk pada dokumen pengelolaan dan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 tahun 1919. Verifikasi lebih lanjut dapat dilakukan melalui kantor desa atau BKSDA.

Dipublikasikan: 15 September 2026 | Terakhir diperbarui: 15 September 2026


Apa Itu Situ Lengkong Panjalu?

Situ Lengkong Panjalu adalah danau cagar alam seluas 57,95 hektare di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam sejak 21 Februari 1919 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6. Danau ini memiliki pulau di tengahnya bernama Nusa Gede seluas 9,25 hektare.


Harga Tiket & Jam Buka

Harga tiket masuk Situ Lengkong Panjalu adalah Rp10.000 per orang (termasuk asuransi). Sewa perahu pulang-pergi Rp15.000 per orang dengan minimum 20 orang. Parkir motor Rp3.000 dan parkir mobil Rp10.000.

Kawasan ini buka 24 jam. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari pukul 05.30–09.00 WIB dan sore hari pukul 15.00–17.00 WIB.

Disclaimer Harga: Harga tiket, sewa perahu, dan parkir dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi di atas dihimpun pada September 2026. Konfirmasi terbaru dapat diperoleh melalui kanal resmi Desa Panjalu.

Fasilitas Pasca-Revitalisasi

  • Dermaga kayu yang lebih kokoh dan aman
  • Boardwalk atau jalur pejalan kaki di sekeliling danau
  • Pusat informasi wisata dengan papan edukasi ekosistem
  • Tempat sampah terpilah dan dispenser air minum gratis
  • Area parkir tertata dengan sistem zonasi
  • Toilet, mushola, gazebo, dan kios kuliner UMKM lokal

Sejarah & Status Cagar Alam

Situ Lengkong ditetapkan sebagai kawasan cagar alam sejak 21 Februari 1919 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6. Penetapan ini menjadikannya salah satu kawasan lindung tertua di Jawa Barat dan yang tertua di Kabupaten Ciamis.

Status cagar alam diberikan untuk melindungi ekosistem danau beserta hutan di Pulau Nusa Gede yang memiliki nilai konservasi tinggi. Kawasan inti lindung seluas 16 hektare dijaga ketat, sementara area sekeliling danau dimanfaatkan untuk wisata berkelanjutan.

Nusa Gede: Sejarah, Tradisi, dan Legenda

Nusa Gede—juga dikenal sebagai Pulau Koorders—berada pada ketinggian 731 meter di atas permukaan laut. Nama “Koorders” diberikan sebagai penghargaan kepada Dr. Koorders, ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Naturubescherming, perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863.

Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Jawa Barat, Nusa Gede diyakini sebagai lokasi permukiman dan taman kerajaan Panjalu pada masa lalu, sementara danau berfungsi sebagai benteng pertahanan alami.

Di pulau inilah dimakamkan Prabu Sanghyang Borosngora, raja Panjalu yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Tatar Galuh. Masyarakat Panjalu meyakini bahwa air Situ Lengkong berasal dari air zamzam yang dibawa oleh Prabu Borosngora sepulang menimba ilmu agama di Tanah Suci Makkah. Kisah ini merupakan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Panjalu, bukan catatan sejarah tertulis.

Pemisahan Fakta dan Tradisi:

  • Fakta tertulis: SK cagar alam 1919, catatan pengelolaan kawasan.
  • Temuan arkeologis: penelitian Balai Arkeologi Jawa Barat tentang Nusa Gede.
  • Tradisi lisan: kisah air zamzam, makam Prabu Borosngora, dan legenda lokal.

Ekosistem: Hutan Rawa Air Tawar

Kawasan ini memiliki hutan rawa air tawar di tepian danau—ekosistem langka yang berfungsi sebagai penahan erosi dan habitat bagi berbagai spesies burung air serta kalong (Pteropus vampyrus). Vegetasi hutan primer di Nusa Gede masih relatif utuh dan tumbuh secara alami. Beberapa jenis flora yang dapat dijumpai antara lain rotan (Calamus javanensis), aren (Arenga pinnata), kihaji (Dysoxylum Sp), dan kikondang (Ficus variegata). Fauna yang dapat ditemui antara lain burung hantu (Otus scops) dan kalong (Pteropus vampyrus).

Catatan Ekologis: Istilah “mangrove” tidak tepat untuk danau air tawar. Ekosistem di tepian Situ Lengkong lebih tepat disebut hutan rawa air tawar. Data spesies dan status konservasi dapat dikonfirmasi kepada BKSDA atau akademisi.


Tradisi Nyangku: Ritual Sakral yang Menjadi Warisan Budaya

Upacara Adat Nyangku adalah tradisi pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu dari Ciamis, Jawa Barat. Tradisi sakral ini rutin dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud (Rabiulawal) oleh para keturunan dan masyarakat setempat.

Inti dari tradisi ini adalah pembukaan pembungkus pusaka dan pencucian setiap benda peninggalan menggunakan air dari sembilan mata air keramat. Air tersebut dicampur dengan jeruk nipis serta bunga setaman untuk membersihkan karat dan menjaga keawetan logam pusaka. Setelah proses pencucian selesai, pusaka-pusaka tersebut dikeringkan, diolesi minyak wangi khusus, lalu dibungkus kembali dengan kain putih untuk disimpan hingga tahun berikutnya.

Nyangku bukan sekadar ritual fisik. Tradisi ini menjadi simbol pembersihan diri dari kekhilafan, iri hati, dan sifat buruk lainnya, sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Etika Berkunjung Saat Nyangku:

  • Kenakan pakaian sopan dan nyaman.
  • Ikuti aturan yang ditetapkan panitia adat.
  • Jangan mengganggu jalannya prosesi ritual.
  • Mintalah izin sebelum mengambil foto atau video.
  • Hormati nilai sakral kawasan.

Bagi wisatawan yang berkunjung di luar periode Nyangku, Museum Pusaka Bumi Alit di dekat danau dapat dikunjungi untuk memperkaya wawasan sejarah dan budaya.


Destinasi Pendukung: Pasir Haur dan Situ Mundu

Agrowisata Pasir Haur

Agrowisata Pasir Haur adalah kawasan seluas 20 hektare di Dusun Simpar, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, yang bertransformasi dari lahan tidur menjadi kawasan pertanian terpadu dan destinasi wisata edukasi. Pengembangannya memadukan sektor pertanian, wisata, edukasi, dan olahraga. Beberapa rencana pengembangan meliputi lahan ketahanan pangan desa, taman buah (termasuk alpukat sebagai komoditas unggulan), budidaya palawija, bumi perkemahan, serta area olahraga dirgantara seperti paralayang dan paramotor.

Situ Mundu

Situ Mundu adalah danau kecil yang terletak di Dusun Simpar, Desa Panjalu, yang menawarkan pengalaman wisata lambat (slow tourism) berbasis ketahanan pangan. Berbeda dengan Situ Lengkong yang sudah dikenal luas, Situ Mundu menawarkan suasana yang lebih tenang, tanpa pengeras suara atau atraksi spektakuler. Aktivitas yang dapat dilakukan antara lain bersantai di tepi danau, membaca buku, mengamati burung, fotografi alam, dan memancing rekreasi pada jadwal tertentu.


Akses & Transportasi

DariJarakWaktu Tempuh
Kota Bandung±100–120 km±3 jam
Kota Ciamis±35 km±45 menit
Kota Tasikmalaya±31 km±1 jam

Kawasan ini dapat diakses oleh kendaraan roda dua, roda empat, bahkan bus pariwisata. Jalan menuju kawasan berkelok dan melewati permukiman, jadi utamakan kehati-hatian.


Tips Berkunjung

  • Datanglah sebelum pukul 07.00 WIB untuk menghindari kepadatan, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
  • Untuk berkunjung ke Pulau Nusa Gede, kenakan pakaian yang sopan dan nyaman.
  • Bawa jaket atau pelindung dari sinar matahari karena cuaca dapat berubah cepat.
  • Untuk wisatawan difabel, hubungi pengelola melalui kanal resmi terlebih dahulu untuk mengetahui aksesibilitas jalur, toilet, dan boardwalk.

Etika Wisata & Konservasi

Sebagai kawasan cagar alam, Situ Lengkong memiliki aturan yang harus dipatuhi setiap pengunjung. Aturan berikut merujuk pada ketentuan pengelola dan peraturan konservasi yang berlaku:

DILARANG:

  • Membuang sampah sembarangan
  • Memberi makan satwa liar
  • Memetik atau merusak flora
  • Menyalakan api unggun di area konservasi
  • Membawa alat tangkap ikan atau berburu
  • Menulis atau menggambar di fasilitas umum

DIANJURKAN:

  • Membawa tempat minum pribadi untuk mengurangi sampah plastik
  • Menggunakan tabir surya ramah lingkungan
  • Mengikuti jalur yang telah disediakan
  • Melaporkan kepada pengelola jika melihat pelanggaran

Sanksi: Pelanggaran terhadap aturan kawasan dapat dikenai sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Pengunjung diharapkan bekerja sama menjaga kelestarian kawasan.


Kuliner & Oleh-Oleh Khas Panjalu

Perjalanan wisata belum lengkap tanpa mencicipi kuliner lokal. Di sekitar kawasan Situ Lengkong, Anda dapat menemukan sajian khas seperti nasi liwet dengan ayam atau ikan bakar, nasi tutug oncom, dan opak—kerupuk renyah khas Panjalu.

Untuk oleh-oleh, jangan lewatkan comring (makanan khas dengan dua rasa: original dan pedas), jawadah takir (camilan dari kelapa parut, tepung beras, dan gula merah), serta kopi Panjalu asli. Anak ikan mujair goreng dan terasi udang juga menjadi oleh-oleh yang banyak dicari pengunjung.

Catatan UMKM: Promosi produk UMKM dilakukan dengan izin pelaku usaha. Nama dan kontak pelaku usaha dapat diperoleh melalui kanal resmi Desa Panjalu.


FAQ Situ Lengkong Panjalu

Berapa harga tiket masuk Situ Lengkong Panjalu?

Tiket masuk Situ Lengkong Panjalu adalah Rp10.000 per orang, sudah termasuk asuransi. Sewa perahu pulang-pergi Rp15.000 per orang dengan minimum 20 orang. Parkir motor Rp3.000 dan parkir mobil Rp10.000.

Jam berapa Situ Lengkong buka?

Kawasan Situ Lengkong buka 24 jam. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari pukul 05.30–09.00 WIB dan sore hari pukul 15.00–17.00 WIB.

Apakah bisa naik perahu ke Nusa Gede?

Ya, pengunjung dapat menaiki perahu kayu tradisional yang dikelola langsung oleh warga Desa Panjalu. Perjalanan memakan waktu sekitar 10–15 menit. Sewa perahu pulang-pergi Rp15.000 per orang dengan minimum 20 orang.

Apa itu tradisi Nyangku?

Nyangku adalah upacara adat berupa tradisi pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Mulud (Rabiulawal) dan menjadi simbol pembersihan diri serta penghormatan kepada para leluhur.

Apakah Situ Lengkong ramah anak?

Situ Lengkong dapat dikunjungi oleh keluarga dengan anak-anak. Fasilitas pasca-revitalisasi mencakup boardwalk, dermaga yang aman, dan area terbuka. Namun, orang tua tetap perlu mengawasi anak-anak, terutama di area tepi danau dan saat menaiki perahu.

Bagaimana akses ke Situ Lengkong dari Bandung?

Dari Kota Bandung, jarak yang perlu ditempuh sekitar 100–120 km melalui jalur Ciawi, Panumbangan, Panjalu, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Kawasan ini dapat diakses oleh kendaraan roda dua, roda empat, dan bus pariwisata.

Apakah ada penginapan di sekitar Situ Lengkong?

Informasi mengenai penginapan dapat diperoleh melalui kanal resmi Desa Panjalu. Beberapa pilihan penginapan tersedia di sekitar kawasan Panjalu dan Ciamis.


Glosarium Entitas

EntitasDeskripsi
Situ LengkongDanau cagar alam seluas 57,95 ha di Desa Panjalu, Ciamis
Nusa GedePulau di tengah Situ Lengkong seluas 9,25 ha, juga dikenal sebagai Pulau Koorders
NyangkuUpacara adat pembersihan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora
Pasir HaurAgrowisata seluas 20 ha di Dusun Simpar, Desa Panjalu
Situ MunduDanau kecil di Dusun Simpar untuk wisata lambat dan ketahanan pangan
Panjalu Emas 2029Visi pembangunan Desa Panjalu menuju desa maju, mandiri, dan berdaya saing
BKSDABalai Konservasi Sumber Daya Alam, pengawas kawasan cagar alam
Prabu Sanghyang BorosngoraRaja Panjalu yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Tatar Galuh

Panjalu Emas 2029: Masa Depan yang Berkelanjutan

Desa Panjalu, dengan status sebagai desa dengan Indeks Desa Membangun (IDM) tertinggi di Kabupaten Ciamis, memiliki visi besar bernama Panjalu Emas 2029: mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing. Revitalisasi Situ Lengkong adalah bagian dari strategi penguatan pariwisata desa yang berkelanjutan—meningkatkan kualitas fasilitas, mendorong pertumbuhan UMKM, menambah Pendapatan Asli Desa, dan membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.

“Kami berkomitmen menjadikan Situ Lengkong sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga lestari dan bermanfaat bagi seluruh warga Panjalu.”
Kepala Desa Panjalu


Penutup

Mengunjungi Situ Lengkong bukan sekadar perjalanan wisata visual. Ia adalah pengalaman spiritual dan edukatif yang menghubungkan pengunjung dengan alam, sejarah, dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun. Dengan wajah barunya yang lebih asri, aman, dan tertata, Situ Lengkong Panjalu siap menyambut wisatawan untuk menemukan kembali pesona warisan leluhur.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *