Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan strategi pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan memastikan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat fondasi ekonomi domestik dengan kebijakan yang efektif dalam pengelolaan inflasi, mendorong konsumsi masyarakat, dan menarik lebih banyak investasi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas nasional untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Indonesia.
“Dengan investasi sebesar 30% dan ICOR sekitar 6,5%, pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan sekitar 5%. Namun, jika produktivitas bisa ditingkatkan dan pembangunan infrastruktur yang terkoneksi dengan daerah produksi terus dilaksanakan, kita dapat menekan ICOR lebih rendah. Jika ICOR dapat diturunkan menjadi 4 dengan investasi 32%, target pertumbuhan 8% bisa tercapai,” ujar Menko Airlangga.
Pemerintah juga berkomitmen menghubungkan infrastruktur yang terbangun dengan sektor produksi, termasuk pelabuhan udara dan laut, kawasan industri, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Menurut Menko Airlangga, KEK akan menjadi kunci percepatan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Dengan total investasi mencapai Rp242,5 triliun, 24 KEK yang telah dikembangkan mendorong hilirisasi dan industrialisasi. Contohnya, KEK Gresik yang memiliki kapasitas untuk mengolah 3 juta ton konsentrat tembaga dan menghasilkan 60 ton emas, memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Sektor pariwisata juga menjadi fokus penting dalam strategi pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menko Airlangga mengungkapkan bahwa penurunan tarif tiket penerbangan domestik sebesar 10% dan pengembalian penerbangan langsung ke destinasi unggulan seperti Tanjung Kelayang, Labuan Bajo, dan Mandalika bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, memperkuat daya tarik pariwisata Indonesia di pasar global.
Sebagai bagian dari transisi energi, pemerintah Indonesia mempercepat adopsi energi terbarukan dengan kebijakan strategis, seperti implementasi B35 yang akan ditingkatkan menjadi B40 pada tahun depan, serta pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk penerbangan. Langkah ini mendukung upaya pengurangan emisi karbon hingga 30 juta ton CO2 per tahun, selaras dengan komitmen global dalam penanggulangan perubahan iklim dan pembangunan energi berkelanjutan.
Indonesia juga terus memperkuat posisi ekonominya di dunia dengan memperluas jaringan kerja sama internasional melalui partisipasi aktif di forum-forum penting seperti G20, APEC, ASEAN, IPEF, CPTPP, OECD, dan BRICS. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendorong diplomasi ekonomi yang efektif, membuka peluang investasi, meningkatkan perdagangan internasional, dan memperkokoh peran Indonesia sebagai kekuatan ekonomi utama di dunia.
Menko Airlangga menutup sambutannya dengan menegaskan bahwa seluruh langkah pemerintah bertujuan untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional dan menciptakan pertumbuhan yang inklusif. Dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% di masa mendatang, pemerintah optimis Indonesia dapat mencapai posisi sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045, seiring dengan momentum peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

