Pemerintah berkomitmen menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebagai alat utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta stabilitas nasional. Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan bahwa APBN tahun depan akan difokuskan pada efisiensi belanja serta penguatan sektor riil guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Strategi Fleksibilitas di Tengah Ketidakpastian Global
Dalam forum CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 pada 26 Februari 2025, Suahasil menekankan pentingnya fleksibilitas APBN dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Tantangan utama kita adalah mengelola ketidakpastian global. Oleh karena itu, instrumen ekonomi dalam negeri harus tetap lincah dan responsif agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di tingkat global,” ujarnya.
Efisiensi Belanja untuk Pengelolaan Anggaran yang Lebih Tepat Sasaran
Salah satu prioritas dalam APBN 2025 adalah efisiensi dalam pengeluaran negara. Pemerintah melakukan evaluasi mendalam terhadap alokasi anggaran untuk memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Meskipun dilakukan efisiensi, belanja pegawai, bantuan sosial, dan layanan publik tetap menjadi prioritas utama.
“Belanja pegawai tetap dipertahankan karena merupakan elemen penting dalam menjalankan roda pemerintahan dan birokrasi,” kata Suahasil.
Dukungan untuk Sektor Riil dan Program Strategis
Selain efisiensi, APBN 2025 juga diarahkan untuk mendukung sektor riil melalui berbagai program strategis. Salah satu program unggulan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sekaligus memperkuat pemanfaatan bahan baku lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Kami ingin mempercepat pelaksanaan program ini karena menggunakan bahan baku dan tenaga kerja lokal, yang berdampak positif bagi perekonomian nasional,” jelasnya.
Komitmen terhadap Sektor Perumahan dan Multiplier Effect
Di sektor perumahan, pemerintah berupaya mempercepat pembangunan rumah rakyat dengan mendorong kemitraan antara APBN dan sektor swasta. Menurut Suahasil, sektor ini memiliki efek ganda (multiplier effect) yang signifikan karena mampu menyerap banyak tenaga kerja serta menggerakkan industri terkait.
“Sektor perumahan memiliki dampak besar karena menggunakan bahan baku dalam negeri dan mempekerjakan tenaga kerja lokal, sehingga mampu menghidupkan berbagai industri pendukung,” tambahnya.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dengan Kebijakan Fiskal yang Akuntabel
Dengan pendekatan kebijakan fiskal yang lebih fleksibel, transparan, dan efisien, APBN 2025 diharapkan mampu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“APBN kita mencakup sekitar 15% dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa 15% ini benar-benar digunakan secara strategis untuk menggerakkan 85% ekonomi lainnya,” pungkas Suahasil.

