Warga Desa Panjalu dihimbau untuk lebih waspada terhadap penyakit Leptospirosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari air kencing tikus. Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat ada 17 warga yang terkena Leptospirosis dari Januari hingga Juli 2025, dan 6 orang di antaranya meninggal dunia.
Menurut penjelasan dari Edis Herdis, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Ciamis, penyakit ini bisa menular melalui air yang sudah tercemar kencing tikus, seperti air banjir, genangan, saluran air, sawah, dan lumpur. Bakteri masuk ke tubuh manusia lewat kulit yang terluka atau selaput lendir, misalnya di mata atau mulut.
Tak hanya itu, alat makan atau tempat makanan yang terkena air kencing tikus juga bisa menjadi sumber penularan. Maka dari itu, kebersihan rumah dan lingkungan sangat penting untuk mencegah penyakit ini.
Gejala Leptospirosis yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam tinggi
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Kulit atau mata terlihat kuning
- Jarang buang air kecil
Jika ada gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar cepat ditangani. Meski bisa berakibat fatal, Leptospirosis bisa disembuhkan jika ditangani sejak awal.
Dari 17 kasus di Ciamis, semuanya masuk dalam kategori “probable”, yaitu gejala yang mengarah ke Leptospirosis dan hasil tes cepat (RDT) menunjukkan positif. Namun, alat pemeriksaan lanjutan seperti PCR belum tersedia di daerah kita.
Untuk itu, warga Desa Panjalu diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Lebih baik mencegah daripada mengobati. Mari kita jaga rumah dan lingkungan kita agar tetap bersih dan sehat.

