25 Kg Sampah Setiap Minggu di Situ Lengkong: Apa yang Dilakukan Desa Panjalu?

25 Kg Sampah Setiap Minggu di Situ Lengkong: Apa yang Dilakukan Desa Panjalu?

Pengelolaan sampah Desa Panjalu menjadi sorotan setelah puluhan kilogram sampah ditemukan setiap akhir pekan di sekitar gazebo, dermaga, dan sela-sela bebatuan di Pulau Nusa Gede Situ Lengkong. Sampah itu didominasi plastik sekali pakai, popok, pembalut, dan puntung rokok — jenis sampah yang mengancam ekosistem danau cagar alam tertua di Indonesia.

Angka puluhan kilogram mungkin terasa kecil dibandingkan timbulan sampah nasional yang mencapai 143.824 ton per hari. Namun bagi Desa Panjalu, angka itu adalah pengingat harian: kebersihan adalah kunci pariwisata yang berkelanjutan.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, telah menetapkan status darurat sampah nasional sebagai respons terhadap triple planetary crisis. Tingkat pengelolaan sampah nasional baru menyentuh angka 24 persen. Bagi Desa Panjalu, isu ini bukan sekadar perhatian nasional — melainkan tantangan nyata yang menyentuh langsung kebersihan lingkungan, kesehatan warga, dan keberlanjutan sektor pariwisata.

Key Takeaways

  • Puluhan kilogram sampah ditemukan setiap akhir pekan di sekitar gazebo, dermaga, dan Pulau Nusa Gede Situ Lengkong (catatan petugas lapangan, 2026).
  • Armada pengangkut sampah diadakan April 2026, bersumber dari PADes Panjalu.
  • 25 relawan kebersihan diberdayakan dengan upah minimal setara UMR Ciamis.
  • Program “Panjalu Geulis” menjadi wadah kolaborasi warga untuk lingkungan bersih.
  • Bank sampah dan ekonomi sirkular mengubah sampah menjadi penghasilan tambahan.

Mengapa Sampah di Situ Lengkong Itu Penting?

Puluhan kilogram sampah yang ditemukan setiap akhir pekan di Situ Lengkong bukan sekadar angka — ini ancaman langsung bagi ekosistem danau cagar alam tertua di Indonesia. Jika tidak dikelola, sampah plastik dapat mencemari air, merusak keindahan alam, dan menurunkan kunjungan wisatawan. Berikut penjelasan mengapa angka ini penting dan apa yang sudah dilakukan Desa Panjalu.

Situ Lengkong adalah danau cagar alam tertua di Indonesia, ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak 1919 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6. Setelah revitalisasi dan dibuka kembali awal 2026, kawasan ini kembali menjadi primadona wisata alam, religi, dan sejarah di Kabupaten Ciamis.

Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan berbanding lurus dengan volume sampah. Sampah plastik yang tidak terkelola dapat mencemari air danau, menyumbat saluran air, dan merusak keindahan alam yang menjadi daya tarik utama. Dampaknya berantai: lingkungan kotor → wisatawan enggan datang → ekonomi warga terpuruk → nilai sakral Situ Lengkong tercemar.

Pertanyaannya: apa yang sudah dilakukan Desa Panjalu?

Apa yang Sudah Dilakukan Desa Panjalu untuk Mengelola Sampah?

Desa Panjalu telah mengambil tiga langkah konkret dalam pengelolaan sampah: (1) mengadakan armada pengangkut sampah dari PADes pada April 2026, (2) menyediakan satu titik TPS di Area Parkir Pintu Keluar Situ Lengkong, dan (3) memberdayakan 25 relawan kebersihan dengan upah setara UMR. Berikut rincian masing-masing langkah.

1. Beli Armada Sendiri dari PADes

Pada Kamis, 20 April 2026, Pemerintah Desa Panjalu mengadakan armada khusus pengangkut sampah yang bersumber dari Pendapatan Asli Desa (PADes) Panjalu. Desa juga telah memiliki kontainer sampah sendiri.

“Dengan adanya armada pengangkut sampah ini, kami berharap pelayanan kebersihan di Desa Panjalu semakin maksimal dan ke depan wilayah desa bisa terbebas dari permasalahan sampah,” ujar Kepala Desa Panjalu, H. Yuyus Surya Adinegara.

Pemdes juga menjalin kolaborasi dengan SBM ITB dan kelompok swadaya Zeroforganic untuk sosialisasi dan perencanaan pembangunan TPS 3R (Reduce-Reuse-Recycle) sejak Juni 2024. Pembangunan TPS 3R ini penting karena jarak ke TPA Cisaga mencapai ±45 kilometer.

2. Satu Titik TPS di Situ Lengkong

Pengelola Situ Lengkong menyediakan satu titik Tempat Pembuangan Sampah di Area Parkir Pintu Keluar, di samping pos penjaga keamanan. Sistem satu titik ini mencegah sampah berhamburan karena diterbangkan angin atau dirobohkan satwa.

Panduan untuk wisatawan:

  • Siapkan kantong sendiri dari rumah
  • Simpan sampah sementara di dalam tas selama beraktivitas
  • Buang di akhir kunjungan saat meninggalkan kawasan

3. 25 Relawan Kebersihan dari Warga Lokal

Pemdes Panjalu memberdayakan 25 orang warga sebagai relawan kebersihan wisata Situ Lengkong. Mereka mendapatkan upah minimal setara UMR Kabupaten Ciamis, bersumber dari PADes Panjalu.

“Yang paling utama adalah menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pengunjung, sekaligus memberdayakan masyarakat agar turut berperan aktif dalam pengelolaan kawasan wisata,” ujar H. Yuyus.

Program ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga mengurangi angka pengangguran di Desa Panjalu. Pemdes menegaskan program ini merupakan inisiatif desa yang bersinergi dengan berbagai pihak.

Apa Itu Program Panjalu Geulis?

Panjalu Geulis adalah singkatan dari Gerakan Edukasi Lingkungan Indah dan Sehat — program partisipatif warga Desa Panjalu yang lahir dari kesepakatan bersama untuk mengatasi masalah lingkungan. Program ini bertujuan mendorong perubahan perilaku pelaku usaha wisata, mewujudkan Panjalu yang bersih, sehat, dan indah, serta meningkatkan motivasi warga untuk mendukung pemberdayaan sosial.

Pemdes Panjalu mendorong partisipasi warga melalui program ini sebagai respons terhadap permasalahan lingkungan di Desa Panjalu. Peran RT/RW juga sangat penting dalam menggerakkan warga untuk memilah sampah dari rumah dan mengikuti kegiatan kerja bakti rutin.

Bagaimana Sampah Bisa Menjadi Rupiah? Bukti Nyata dari Ciamis

Sampah tidak selalu menjadi masalah — jika dikelola dengan baik, sampah bisa bernilai ekonomi. Bukti nyata datang dari warga Ciamis: Sukeji mengumpulkan Rp2.000–Rp20.000 per hari dari bank sampah, sementara kelompok PS3R Kartini menjual maggot Rp10.000 per kilogram. Berikut kisah lengkapnya.

Sukeji, seorang warga Ciamis, rutin menyetorkan sampah bekas dus ke bank sampah. Dalam sehari, ia dapat mengumpulkan Rp2 ribu hingga Rp20 ribu. Saldo tabungannya bisa dicairkan menjadi uang tunai atau ditukar dengan kebutuhan pokok.

Sementara itu, kelompok PS3R Kartini mengolah sampah organik menjadi pakan maggot. Maggot dewasa dijual sekitar Rp10 ribu per kilogram, sedangkan sisa kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Data Timbulan Sampah Ciamis:

  • Timbulan sampah: 501,2 ton per hari (data DPRKPLH Ciamis, 2025)
  • 42,44% ditangani pemerintah, 40,11% dikelola masyarakat, sisanya masuk TPA
  • 38% sampah adalah sisa makanan
  • 49% berasal dari rumah tangga

Kesimpulannya jelas: pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga.

[TABEL: Perbandingan Timbulan Sampah Nasional, Ciamis, dan Desa Panjalu]

WilayahTimbulan SampahYang Terkelola
Nasional143.824 ton/hari24%
Kabupaten Ciamis501,2 ton/hari42,44% ditangani pemerintah
Desa Panjalu (Situ Lengkong)Puluhan kg/akhir pekanDikelola petugas & relawan

Bagaimana Cara Warga dan Wisatawan Berpartisipasi?

Warga Desa Panjalu dapat berpartisipasi dengan memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, mengikuti bank sampah, dan mendaftar sebagai relawan kebersihan di Kantor Desa Panjalu. Wisatawan dapat membantu dengan membawa kantong sampah sendiri dan membuangnya di TPS Area Parkir Pintu Keluar saat meninggalkan kawasan.

Untuk warga Desa Panjalu:

  1. Pilah sampah organik dan anorganik di rumah
  2. Kurangi plastik sekali pakai
  3. Buang sampah sesuai jadwal
  4. Ikut bank sampah atau program Panjalu Geulis
  5. Daftar sebagai relawan kebersihan di Kantor Desa Panjalu

Untuk wisatawan:

  1. Bawa kantong sampah sendiri dari rumah
  2. Simpan sampah di tas selama beraktivitas
  3. Buang di TPS Area Parkir Pintu Keluar saat pulang

Satu kantong sampah Anda menyelamatkan ekosistem danau cagar alam tertua di Indonesia.

Penutup

Permasalahan sampah adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah, desa, pelaku usaha wisata, dan masyarakat perlu berjalan seiring. Dengan sinergi lintas sektor, Desa Panjalu dapat terus menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempertahankan statusnya sebagai desa wisata unggulan.

Mari jadikan momentum darurat sampah nasional ini sebagai titik balik: Panjalu bersih, Panjalu sehat, Panjalu indah — menuju Panjalu Emas 2030.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pengelolaan Sampah Desa Panjalu

1. Apa itu darurat sampah nasional?
Status yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pada Januari 2026 sebagai respons terhadap krisis pengelolaan sampah, dengan target 100% sampah terkelola pada 2029.

2. Berapa volume sampah yang terkumpul di Situ Lengkong setiap akhir pekan?
Berdasarkan catatan petugas lapangan, masih ditemukan puluhan kilogram sampah setiap akhir pekan di sekitar gazebo, dermaga, dan sela-sela bebatuan di Pulau Nusa Gede.

3. Di mana tempat membuang sampah di kawasan Situ Lengkong?
Satu titik TPS di Area Parkir Pintu Keluar, di samping pos penjaga keamanan. Wisatawan diimbau membawa kantong sendiri dan membuang sampah saat meninggalkan kawasan.

4. Apa itu program Panjalu Geulis?
Singkatan dari Gerakan Edukasi Lingkungan Indah dan Sehat, program partisipatif warga Desa Panjalu untuk mewujudkan Panjalu yang bersih, sehat, dan indah.

5. Bagaimana cara warga berpartisipasi?
Pilah sampah di rumah, kurangi plastik sekali pakai, ikut bank sampah, dan daftar sebagai relawan kebersihan di Kantor Desa Panjalu.

6. Apakah ada jadwal pengangkutan sampah?
Pengangkutan sampah dari TPS Situ Lengkong dilakukan setiap akhir pekan. Untuk jadwal di wilayah permukiman, silakan hubungi RT/RW setempat.

Disclaimer: Artikel ini merupakan evaluasi berbasis data lapangan dan sumber terverifikasi. Pandangan yang disampaikan tidak mewakili sikap resmi Pemerintah Desa Panjalu. Kritik dan saran dapat disampaikan melalui Kantor Desa Panjalu atau website resmi desa.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *