Inovasi memiliki peran krusial dalam membangun ekosistem pangan nasional yang berkelanjutan. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan produksi pangan domestik guna mencapai swasembada, sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional (NFA), Arief Prasetyo Adi, saat menghadiri acara di Agribusiness and Technology Park Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat, pada Selasa, 11 Februari 2025. Ia menekankan pentingnya implementasi inovasi dan invensi dari IPB secara kolaboratif dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Peran Inovasi dalam Peningkatan Produksi Pangan
“Inovasi yang dipaparkan oleh Rektor IPB dalam bidang ketahanan pangan sangat luar biasa. Salah satunya adalah pengembangan benih padi varietas unggul yang telah berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian. Bahkan, uji coba penerapan teknologi budidaya padi tahun lalu menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Dengan hasil ini, kita semakin optimis bahwa swasembada beras dapat segera terwujud,” ujar Arief.
Data Produksi dan Konsumsi Beras Nasional
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi pada 2024 mencapai 10,05 juta hektar. Dari luas tersebut, petani berhasil menghasilkan 53,14 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), yang setara dengan 30,62 juta ton beras. Konsumsi beras nasional pada tahun yang sama diperkirakan mencapai 30,73 juta ton.
Sementara itu, pada 2023, luas panen padi tercatat sebesar 10,21 juta hektar, menghasilkan 53,98 juta ton GKG dan 31,10 juta ton beras. Konsumsi beras nasional pada periode tersebut mencapai 30,89 juta ton.
“Kemajuan inovasi dalam produksi padi merupakan kabar baik bagi ketahanan pangan nasional. Presiden telah berkomitmen mempercepat pencapaian swasembada. Berdasarkan neraca pangan yang kami susun di Badan Pangan Nasional, masih ada beberapa komoditas strategis yang belum mencukupi kebutuhan domestik. Oleh karena itu, inovasi harus terus didorong untuk meningkatkan produksi dalam negeri,” tambah Arief.
Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 yang diperbarui pada 21 Januari, dari 12 komoditas pangan strategis, sebagian besar diprediksi dapat terpenuhi dari produksi domestik. Namun, pasokan kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau masih menjadi perhatian utama. Pemerintah optimis bahwa di luar tiga komoditas tersebut, Indonesia tidak perlu bergantung pada impor.
Strategi IPB dalam Mendukung Ketahanan Pangan
Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB University, Arif Satria, menjelaskan berbagai program aksi ketahanan pangan yang tengah dijalankan pada 2025.
“Kami telah merancang 10 program aksi ketahanan pangan. Salah satunya adalah penyediaan 3.156 ton benih padi varietas unggulan IPB yang akan didistribusikan melalui Kementerian Pertanian. Saat ini, kami memiliki 15 varietas yang sebagian besar akan diperbanyak dan disalurkan secara luas,” paparnya.
“Selain itu, kami juga memperluas Kampung Inovasi IPB untuk pengembangan padi sawah gogo seluas 1.125 hektar pada 2025. Dengan penerapan teknologi budidaya terkini, hasil penelitian pada 2024 menunjukkan peningkatan produktivitas padi hingga 32 persen di Jawa Barat. Kami juga akan mendirikan Rice Innovation Center di Kampus IPB,” lanjutnya.
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Pada kegiatan ini, IPB University menyerahkan buku rekomendasi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Badan Gizi Nasional. Buku ini disusun bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Beberapa rekomendasi utama yang diajukan antara lain:
- Rekomendasi Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis
- Rekomendasi Tata Kelola dan Manajemen Program Makan Bergizi Gratis
- Rekomendasi Sistem Pemantauan dan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menekankan bahwa program MBG memiliki dampak positif bagi pertanian dan ekonomi nasional. Oleh karena itu, diperlukan dukungan penuh agar program ini berhasil diimplementasikan secara efektif.
“MBG kini menjadi prioritas utama karena dampaknya yang luas. Program ini tidak hanya membantu ibu hamil dan anak-anak, tetapi juga memastikan masa depan Indonesia yang lebih sehat. Dengan MBG, sektor usaha kecil dan menengah berkembang, serta pertanian menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.
“Di tingkat global, setidaknya 139 negara telah mengadopsi program makan siang. Namun, cakupan program MBG di Indonesia lebih luas karena tidak hanya menargetkan anak sekolah, tetapi juga PAUD, SMA, SMK, hingga SLB. Tantangan terbesar dalam program ini adalah jumlah penerima manfaat yang mencapai 92,78 juta jiwa,” pungkasnya.
Dengan dukungan inovasi pertanian, peningkatan produksi pangan, serta implementasi program strategis seperti MBG, Indonesia semakin dekat dengan swasembada pangan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor pertanian menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
