PANJALU — Gemuruh shalawat menggema di seluruh Situ Lengkong. Lantunan ayat suci Al-Qur’an juga memecah ketenangan pagi itu. Hari Minggu, 12 Juli 2026, menjadi saksi bisu peristiwa besar tersebut. Ribuan masyarakat berbondong-bondong datang dari berbagai penjuru. Mereka berasal dari Kecamatan Panjalu dan sekitarnya. Tumpah ruah mereka memenuhi kawasan Pulau Nusa Gede. Satu tujuan utama mereka hadir: mengikuti Haul Akbar Eyang Boros Ngora.
Kegiatan tahunan ini digagas oleh Pemerintah Desa Panjalu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga turut mendukung penuh. Oleh karena itu, acara ini bukan sekadar seremonial rutin. Sebaliknya, ia menjelma menjadi simpul pemersatu masyarakat. Selain itu, acara ini menjadi ruang aktualisasi spiritual. Tak hanya itu, event ini juga menjadi wadah kepedulian sosial. Dampaknya pun terasa nyata bagi warga setempat.
Acara berlangsung dengan sangat khidmat. Para pejabat hadir memenuhi undangan. Misalnya, hadir jajaran Forkopimcam Panjalu. Selain mereka, para kepala desa se-Kecamatan Panjalu juga turut hadir. Tidak ketinggalan, Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis ikut hadir. Sekretaris Dinas Pariwisata pun terlihat di lokasi. Keluarga besar Yayasan Boros Ngora juga memadati tempat. Terakhir, para tokoh agama dan budayawan Sunda turut meramaikan.
Sosok Eyang Boros Ngora: Raja dan Ulama Panjalu
Haul ini dipersembahkan untuk mengenang seorang tokoh besar. Tokoh tersebut adalah Prabu Sanghyang Borosngora. Masyarakat setempat lebih akrab memanggilnya Eyang Boros Ngora. Beliau adalah Raja Panjalu pertama yang memeluk Islam. Selain itu, beliau juga tokoh sentral penyebar Islam. Dakwahnya menyebar luas hingga ke Tatar Galuh.
Eyang Boros Ngora bukan sekadar pemimpin birokrasi. Bahkan, beliau dikenal sebagai ulama kharismatik. Cara dakwahnya pun sangat unik. Beliau menggunakan pendekatan kultural dan keteladanan. Karena itu, ajaran Islam diterima dengan damai oleh masyarakat.
Makam beliau terletak di Pulau Nusa Gede. Lokasinya persis di tengah danau Situ Lengkong. Luas danau ini mencapai 58 hektar. Dengan demikian, kawasan ini bukan sekadar wisata alam. Lebih dari itu, tempat ini menjadi pusat wisata religi. Nilai sejarah dan spiritualnya sangat tinggi bagi masyarakat Sunda. Situs ini selalu mengingatkan kita pada kegigihan leluhur. Di sisi lain, situs ini juga menjadi pilar identitas budaya Panjalu. Identitas ini terus dijaga hingga saat ini.
Harmoni Ibadah dan Kepedulian Sosial
Panitia merancang acara ini dengan sangat matang. Mereka memadukan ibadah dan kegiatan sosial. Pertama, suasana sakral tercipta saat tahlil akbar dimulai. Kedua, tabligh akbar pun digelar dengan meriah. Ketiga, gema shalawat dipimpin oleh para kyai. Jamaah pun dengan khusyuk memanjatkan doa. Mereka mendoakan para leluhur. Di samping itu, mereka juga memohon keberkahan untuk Panjalu.
Puncak kebahagiaan justru terjadi di sesi sosial. Panitia mencatatkan angka yang membanggakan. Mereka menyalurkan santunan kepada 273 anak yatim. Suasana haru menyelimuti lokasi saat itu. Anak-anak yatim menerima amplop santunan. Penyerahan dilakukan secara simbolis. Perwakilan pemerintah desa dan tokoh masyarakat yang memberikannya. Tentunya, momen ini menjadi bukti nyata kepedulian. Haul tidak hanya bicara masa lalu. Akan tetapi, haul juga hadir untuk masa kini.
Panitia juga memberikan penghargaan khusus. Penghargaan itu berupa uang kadeudeuh. Penerimanya adalah para juru kunci makam. Selain itu, para guru ngaji juga mendapatkannya. Tindakan ini bentuk apresiasi Pemerintah Desa. Mereka berdedikasi tanpa lelah. Contohnya, mereka menjaga kelestarian situs budaya. Selain itu, mereka juga mengajarkan nilai-nilai agama. Generasi muda Panjalu pun mendapat manfaat besar.
Angka Penting Haul Akbar 2026
| Program | Jumlah / Penerima |
|---|---|
| Santunan Anak Yatim | 273 orang |
| Penghargaan (Uang Kadeudeuh) | Puluhan orang (juru kunci & guru ngaji) |
| Voucher Umrah | 3 orang |
| Porsi Makan Gratis | Ratusan porsi untuk masyarakat umum |
Keberuntungan Menggapai Baitullah
Pengundian hadiah utama menjadi momen yang paling ditunggu. Suasana semakin meriah saat itu. Akhirnya, terpilih tiga orang pemenang. Mereka berhasil meraih voucher umrah. Dua pemenang berasal dari warga asli Panjalu. Mereka tinggal di Banjarwaru dan Dukuh. Pemilihan dilakukan secara acak dan transparan. Satu tiket umrah lainnya adalah donasi spesial. Donasi tersebut berasal dari PT SIM Tek. Perusahaan itu mendukung kegiatan keagamaan di Panjalu. Dengan begitu, kejutan ini menambah semarak acara. Tentunya, ini menjadi berkah tersendiri bagi para pemenang.
Pesan Penting: Budaya dan Kemajuan Desa
Kepala Desa Panjalu, H. Yuyus Surya Adinegara, menyampaikan pidato yang menyentuh. Beliau berbicara di sela-sela acara. Pertama-tama, beliau mengucapkan syukur atas kelancaran acara. Menurutnya, kesuksesan ini bukti kekompakan masyarakat. Oleh karena itu, beliau mengajak semua elemen bersinergi.
“Alhamdulillah, ini adalah keberkahan untuk kita semua. Mari kita satukan langkah membangun Panjalu. Namun, ingatlah selalu. Kemajuan fisik harus diimbangi budaya. Kearifan lokal adalah identitas kita. Jagalah itu.”
Sementara itu, perwakilan Bupati Ciamis juga hadir. Beliau adalah Kepala Disbudpora, Dr. Drs. Dian Budiyana, M.Si. Beliau memberikan apresiasi mendalam. Menurutnya, acara berlangsung dengan tertib dan lancar. Lebih lanjut, beliau menyoroti Tradisi Nyangku. Tradisi ini telah diakui secara resmi. Pengakuan tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
“Eyang Boros Ngora adalah pemimpin visioner. Warisan budaya ini luar biasa. Nyangku bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah identitas kita. Ini juga daya tarik pariwisata. Bahkan, ini menggerakkan ekonomi kerakyatan. Tugas kita menjaganya. Jangan sampai tergerus zaman. Namun, tetap selaras dengan agama dan aturan.”
FAQ: Informasi Lengkap Haul Akbar
Apa itu Haul Akbar Eyang Boros Ngora?
Acara tahunan dari Pemerintah Desa Panjalu. Tujuannya untuk mengenang Prabu Sanghyang Borosngora. Beliau adalah raja dan ulama penyebar Islam pertama di Panjalu.
Kapan dan di mana acara ini dilaksanakan?
Acara dilaksanakan pada Minggu, 12 Juli 2026. Lokasinya di Objek Wisata Situ Lengkong. Tepatnya di Pulau Nusa Gede, Desa Panjalu, Ciamis.
Apa saja rangkaian acaranya?
Rangkaiannya meliputi tabligh akbar, tahlil, dan gema shalawat. Selain itu, ada santunan 273 anak yatim. Ada pula pemberian uang kadeudeuh. Tak ketinggalan, pengundian 3 voucher umrah. Terakhir, ada pembagian makan gratis.
Apa hubungan haul dengan Tradisi Nyangku?
Nyangku adalah ritual pembersihan benda pusaka. Benda pusaka itu peninggalan Eyang Boros Ngora. Keduanya saling berkaitan erat. Keduanya bentuk penghormatan pada leluhur. Bahkan, Nyangku sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Berapa luas Situ Lengkong?
Situ Lengkong adalah danau alami. Luasnya mencapai 58 hektar. Di tengahnya ada Pulau Nusa Gede sebagai situs sejarah.
Haul Akbar Eyang Boros Ngora membuktikan banyak hal. Tradisi, agama, dan modernitas bisa berpadu. Contohnya, ada ziarah untuk mengenang leluhur. Lalu, ada tahlil untuk mendoakan arwah. Selain itu, ada santunan untuk menolong sesama. Dengan demikian, acara ini membangun kebersamaan yang kuat.
Pemerintah Desa Panjalu berkomitmen penuh. Mereka akan terus menjadikan haul sebagai agenda prioritas. Harapannya, ini menjadi ikon budaya dan religi Ciamis. Lebih dari itu, ini menjadi fondasi generasi penerus. Generasi yang beriman, berbudaya, dan berdaya saing.
Mari kita jaga warisan leluhur. Mari kita kuatkan silaturahmi. Bersama, kita bangun Panjalu yang berkah!
