Menjelajahi Dua Wajah Panjalu: Danau Cagar Alam Tertua & Surga di Atas Awan

Menjelajahi Dua Wajah Panjalu: Danau Cagar Alam Tertua & Surga di Atas Awan

Dari bisikan sejarah di atas telaga hingga hamparan hijau di ketinggian 800 mdpl—Panjalu menyimpan dua permata wisata yang tak boleh dilewatkan.

Prolog: Ketika Kabut dan Sejarah Berbisik di Atas Telaga

Saat fajar mulai menyingsing di perbukitan selatan Jawa Barat, selembar kabut tipis turun membasahi permukaan telaga seluas 57,95 hektar.Di kejauhan, Pulau Nusa Gede tampak seperti benteng hijau yang mengambang, dikelilingi oleh riak-riak air yang ditenangkan oleh pepohonan purba di tepiannya.Suara dayung kayu yang mendesis pelan berpadu dengan kicauan burung bangau dan raja-udang yang terbang rendah di atas rimbunan mangrove air tawar.

Ini bukan sekadar panorama alam biasa. Ini adalah Situ Lengkong Panjalu.

Di Mana Letak Panjalu?

Desa Panjalu terletak di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat—sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Ciamis dengan waktu tempuh 45 menit hingga 1 jam berkendara.Desa ini menyandang status sebagai desa dengan Indeks Desa Membangun (IDM) tertinggi di Kabupaten Ciamis dan memiliki visi besar bernama “Panjalu Emas 2029”—sebuah cita-cita menjadikan Desa Panjalu sebagai desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

Destinasi 1: Situ Lengkong — Danau Cagar Alam Tertua di Indonesia

Danau dengan Sejarah yang Hidup

Situ Lengkong—yang dalam bahasa Sunda berarti “danau”—adalah danau alami seluas 57,95 hektar dengan kedalaman rata-rata 5 meter dan kedalaman maksimal 6 meter.Namun, di balik keindahan alamnya, tersimpan sejarah panjang yang menjadikannya istimewa.

Legenda dan Asal-usul:

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, kawasan Situ Lengkong dahulunya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu Ciamis.Pendiri ibu kota kerajaan adalah tokoh kharismatik leluhur Panjalu bernama Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu Islam pertama.

Konon, setelah menuntut ilmu agama di Tanah Suci, Borosngora kembali dengan membawa oleh-oleh istimewa: air zamzam dalam sebuah gayung bungbas—gayung batok kelapa yang bagian bawahnya berlubang. Air zamzam itu ditumpahkan ke dalam sebuah lembah (legok), dan secara ajaib lembah tersebut berubah menjadi danau, sementara sebuah bukit di tengahnya menjelma menjadi pulau.

Mengapa Disebut “Lengkong”?

Nama Lengkong dalam bahasa Sunda merujuk pada bentuk danau yang melingkar seperti gelang—sebuah gambaran yang tepat untuk danau dengan panorama melingkar yang memukau.

Status Cagar Alam Tertua di Indonesia

Inilah fakta yang membuat Situ Lengkong benar-benar istimewa: kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam (Natuurmonumenten) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 pada tanggal 21 Februari 1919.

Dengan penetapan ini, Situ Lengkong menyandang predikat sebagai salah satu danau lindung tertua di Indonesia—bahkan yang tertua di antara danau-danau yang masih lestari hingga kini.Status lindung ini mencakup kawasan Pulau Nusa Gede seluas 16 hektar sebagai cagar alam, yang menjadikannya kawasan konservasi yang telah bertahan lebih dari satu abad.

Pulau Nusa Gede: Pusat Sejarah dan Spiritual

Di tengah danau terdapat Pulau Nusa Gede (juga dikenal sebagai Nusa Larang) seluas 9,25 hektar.Pulau ini masih ditutupi oleh hutan hujan tropis yang lebat dengan 30 jenis pohon.

Nama Nusa Larang berarti “pulau terlarang” atau “pulau yang disucikan”—terinspirasi dari sebutan Kota Mekah sebagai tanah haram (tanah terlarang yang disucikan). Di pulau inilah terdapat makam Prabu Hariang Kencana (Syekh Panjalu), salah satu tokoh penyebar agama Islam dan raja Panjalu pada masa lampau.Keberadaan makam keramat ini menjadikan Situ Lengkong sebagai salah satu tujuan wisata religi yang tidak pernah sepi dari peziarah.

Selain itu, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh Kerajaan Panjalu lainnya, menjadikan pulau ini pusat spiritual yang sangat dihormati oleh masyarakat.

Museum Bumi Alit

Di kawasan Situ Lengkong, Anda juga dapat mengunjungi Museum Bumi Alit, yang menyimpan benda-benda purbakala peninggalan Kerajaan Panjalu: menhir, batu penyucian, batu penobatan, naskah-naskah kuno, serta pedang, cis, dan genta (lonceng kecil) peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.

Tradisi Budaya: Upacara Nyangku

Panjalu juga kaya akan tradisi budaya yang masih dipelihara hingga kini, seperti Upacara Nyangku—tradisi pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu yang rutin digelar pada bulan Rabiulawal dan selalu menarik perhatian ribuan wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

Wajah Baru 2026: Pasca Revitalisasi

Setelah menjalani proses revitalisasi yang komprehensif, Situ Lengkong resmi dibuka kembali pada 1 Januari 2026.Revitalisasi mencakup penataan kawasan dan peningkatan fasilitas pendukung wisata, antara lain: pembangunan dan penataan dermaga, perbaikan akses dan jalur pejalan kaki, penataan ruang publik dan area pelayanan pengunjung, serta penguatan sistem kebersihan dan pelestarian lingkungan danau.

Kini, denyut kehidupan di tepian danau ini kembali bergeliat, menyambut wisatawan dari berbagai penjuru yang datang untuk menikmati wisata alam Ciamis, menelusuri sejarah Kerajaan Panjalu, dan merasakan pengalaman wisata religi yang mendalam.

Destinasi 2: Agrowisata Pasir Haur — Surga di Atas Awan

Dari Lahan Tidur Menuju Lumbung Pangan

Jika Anda pikir Panjalu hanya identik dengan Situ Lengkong, bersiaplah untuk meluruskan anggapan itu. Di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut, tersembunyi destinasi yang mulai menarik perhatian para pelancong: Agrowisata Pasir Haur.

Kawasan seluas 20 hektare di Dusun Simpar, Desa Panjalu ini menyimpan kisah transformasi yang inspiratif.Dulu, lahan ini hanya berupa lapangan sepak bola dengan tingkat pemanfaatan yang jauh dari optimal.

Cerita berawal dari sebuah pertanyaan sederhana dari Kepala Desa Panjalu, H. Yuyus Surya Adinegara, kepada warganya: “Bagaimana jika lahan seluas 20 hektare ini tidak hanya menjadi lapangan kosong, tetapi menjadi sumber pangan dan ekonomi bagi kita semua?”

Kini, lahan tersebut telah bertransformasi menjadi kawasan pertanian terpadu dan destinasi wisata edukasi. Dikelola oleh Pemerintah Desa Panjalu bersama BUMDes Rahayu Waluya, Pasir Haur mengembangkan alpukat varietas unggul dan sorgum sebagai komoditas utama.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten Ciamis melakukan penanaman perdana sorgum di kawasan ini pada 2 Mei 2026 sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan pencegahan stunting.

Panorama 360 Derajat

Dari puncak Pasir Haur, Anda disuguhi panorama 360 derajat yang langka: hamparan perbukitan hijau, celah-celah lembah berembun, serta kilauan Situ Lengkong dari kejauhan. Saat malam tiba, lampu kota Ciamis berkelap-kelip bak lautan bintang di kaki langit.

Rencana Pengembangan Menarik

Agrowisata Pasir Haur dirancang sebagai kawasan terpadu yang memadukan sektor pertanian, wisata, edukasi, dan olahraga.Beberapa rencana pengembangan meliputi:

  • Lahan ketahanan pangan desa
  • Taman buah dengan alpukat sebagai komoditas unggulan
  • Budidaya palawija
  • Bumi perkemahan
  • Area olahraga dirgantara seperti paralayang dan paramotor

Akses Mudah

Berjarak sekitar 15 menit berkendara dari pusat Pemerintahan Desa Panjalu, jalan menuju lokasi telah diperbaiki dengan konstruksi makadam yang siap dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.Pemandangan sepanjang perjalanan juga tak kalah menarik, dengan hamparan kebun warga dan udara sejuk khas pegunungan yang menyambut para pengunjung.

Informasi Praktis untuk Kunjungan Anda

Situ Lengkong

AspekDetail
Luas Danau57,95 hektar
Luas Pulau Nusa Gede9,25 hektar (cagar alam 16 hektar)
Tiket MasukRp10.000/orang (termasuk asuransi)
Sewa Perahu (PP)Rp15.000/orang (min. 20 orang)
Parkir MotorRp3.000
Parkir MobilRp10.000
Jam Operasional24 jam
Waktu Terbaik05.30–09.00 WIB (kabut pagi) atau 15.00–17.30 WIB (senja)
LokasiDesa Panjalu, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis
Jarak dari Ciamis±35 km, waktu tempuh ±45 menit

Fasilitas: Lahan parkir zonasi, dermaga kayu, boardwalk, toilet, gazebo, mushola, pusat informasi, dispenser air minum.

Transportasi Air: Perahu kayu tradisional oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Agrowisata Pasir Haur

AspekDetail
LokasiDusun Simpar, Desa Panjalu, Kec. Panjalu
Luas±20 hektare
Ketinggian>800 mdpl
Akses15 menit dari pusat desa, jalan makadam

Tips Berkunjung

  1. Datang pagi—sebelum pukul 07.00 WIB untuk menghindari kepadatan dan menikmati kabut pagi yang magis
  2. Kenakan pakaian sopan saat berkunjung ke situs spiritual di Pulau Nusa Gede
  3. Bawa uang tunai—belum semua fasilitas menerima pembayaran digital
  4. Bawa botol minum isi ulang—tersedia dispenser air minum gratis
  5. Gabungkan kedua destinasi—mulai pagi dengan Situ Lengkong, lanjutkan ke Pasir Haur untuk menikmati panorama siang hingga senja

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah Situ Lengkong benar-benar danau cagar alam tertua di Indonesia?
Ya. Situ Lengkong ditetapkan sebagai cagar alam (Natuurmonumenten) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 tanggal 21 Februari 1919, menjadikannya salah satu danau lindung tertua—bahkan yang tertua di antara danau-danau yang masih lestari hingga kini.

2. Berapa luas Situ Lengkong dan Pulau Nusa Gede?
Luas permukaan danau adalah 57,95 hektar, sedangkan Pulau Nusa Gede memiliki luas 9,25 hektar dengan kawasan cagar alam seluas 16 hektar.

3. Apa yang bisa dilakukan di Agrowisata Pasir Haur?
Pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat, belajar tentang budidaya alpukat dan sorgum, berkemah, serta ke depannya akan tersedia fasilitas paralayang dan paramotor.

4. Bagaimana akses menuju Agrowisata Pasir Haur?
Berjarak sekitar 15 menit berkendara dari pusat Desa Panjalu dengan jalan makadam yang dapat dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.

5. Apakah ada akomodasi di sekitar kawasan wisata?
Saat ini tersedia homestay dan penginapan sederhana di sekitar Desa Panjalu. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi explore.panjalu.desa.id.

Kesimpulan

Desa Panjalu menawarkan dua pengalaman wisata yang saling melengkapi: kedalaman sejarah dan spiritual di Situ Lengkong—danau cagar alam tertua di Indonesia yang telah berdiri selama lebih dari satu abad—serta keindahan panorama dan semangat transformasi di Agrowisata Pasir Haur—sebuah bukti nyata bagaimana sebuah desa bisa bangkit dari lahan tidur menuju kemandirian.

Kombinasi harmonis antara keindahan alam, jejak sejarah, dan tradisi lokal menjadikan Panjalu destinasi yang sangat istimewa.Mengunjungi danau ini bukan sekadar perjalanan wisata visual, melainkan juga pengalaman spiritual dan edukatif yang mendalam.


Rencanakan kunjungan Anda ke Panjalu sekarang! Kunjungi situs resmi panjalu.desa.id atau explore.panjalu.desa.id untuk panduan lengkap. Informasi resmi mengenai jadwal, jam operasional, dan ketentuan kunjungan akan diumumkan melalui website resmi Pemerintah Desa Panjalu.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *