Panjalu, Ciamis – Bulan Maulid atau Rabiul Awal kembali tiba, dan dengan itu, denyut nadi budaya di Desa Panjalu mulai berdetak lebih kencang. Masyarakat dan para pemangku adat sedang bersiap untuk menyelenggarakan Upacara Adat Nyangku, sebuah ritual sakral turun-temurun berupa pencucian dan penyucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu.
Nyangku bukan sekadar upacara adat biasa. Ini adalah warisan budaya yang sarat makna sejarah, religius, dan kearifan lokal. Istilah Nyangku sendiri memiliki dua penafsiran. Sebagian sesepuh mengartikannya sebagai akronim dari nyaangan laku dalam Bahasa Sunda, yang berarti menerangi perilaku atau membersihkan diri. Sementara itu, ada pula yang menelusuri asal katanya dari bahasa Arab, yanko, yang berarti membersihkan. Bagi masyarakat Panjalu, momen ini adalah waktu untuk berintrospeksi diri dari perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama dan adat.
Akar Sejarah yang Dalam
Sejarah Upacara Nyangku berakar pada masa Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, raja Panjalu pertama yang memeluk dan menyebarkan agama Islam di wilayah Panjalu. Konon, sang raja menempuh perjalanan jauh hingga ke tanah suci Mekah untuk menuntut ilmu agama. Kepulangannya dari Mekah menjadikannya raja pertama yang secara resmi menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam.
Selain untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tradisi ini dilaksanakan juga untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora dan raja-raja Panjalu yang telah menyebarkan ajaran Islam. Nyangku telah berlangsung selama bertahun-tahun dan masih digelar setiap tahun di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Jadwal Pasti Nyangku 2026
Upacara adat Nyangku secara turun-temurun dilaksanakan setiap tahun pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulid (Rabiul Awal).
Berdasarkan informasi terbaru, puncak acara Upacara Adat Nyangku untuk tahun 2026 akan dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026, yang bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 H. Rangkaian acara persiapan seperti Tradisi Samida dilaksanakan sekitar satu minggu sebelumnya.
Mengingat penentuan tanggal dalam kalender Hijriah bersifat dinamis, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Pemerintah Desa Panjalu melalui kanal-kanal informasi resmi desa.
Rangkaian Acara Nyangku Panjalu
Upacara Nyangku merupakan rangkaian prosesi adat yang berlangsung selama beberapa hari. Berdasarkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, berikut adalah gambaran rangkaian acaranya:
Inti Upacara: Perjalanan Sakral Pusaka
1. Pengeluaran Pusaka dari Bumi Alit
Upacara Nyangku dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dengan mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempat penyimpanan sakralnya, Pasucian Bumi Alit (atau Museum Bumi Alit), oleh keturunan Kerajaan Panjalu. Bumi Alit sendiri terletak sekitar 200 meter ke arah selatan dari Situ Lengkong. Di sinilah benda-benda peninggalan bersejarah seperti menhir, batu penyucian, batu penobatan, dan naskah-naskah kuno disimpan.
2. Kirab Menuju Nusa Gede
Pusaka-pusaka ini kemudian diarak oleh para keturunan Raja Panjalu dan tokoh adat dengan mengenakan pakaian adat berupa ikat kepala dan baju pangsi berwarna hitam atau putih. Di sepanjang jalan, mereka membacakan sholawat diiringi tabuhan musik gembyung (rebana).
Arak-arakan bergerak menuju Nusa Gede, sebuah pulau seluas 9,25 hektar di tengah Situ Lengkong Panjalu. Di pulau inilah terdapat kompleks makam Prabu Hariang Kencana — putra dari Prabu Sanghyang Borosngora yang juga pernah menjadi raja Panjalu dan meneruskan perjuangan dakwah ayahnya. Benda-benda pusaka utama dibawa dengan cara digendong seperti menggendong bayi oleh keturunan Raja Panjalu yang ditunjuk.
Penting bagi Pengunjung: Pada hari puncak Nyangku, akses ke Nusa Gede hanya diperuntukkan bagi pembawa pusaka, keluarga kerajaan, dan rombongan adat. Pengunjung umum tidak diperkenankan naik ke Pulau Nusa Gede pada saat prosesi inti berlangsung, karena kapasitas pulau dan dermaga yang terbatas serta untuk menjaga kesakralan acara. Pengunjung dapat menyaksikan prosesi dari tepi Situ Lengkong atau menunggu di Lapang Borosngora untuk menyaksikan puncak pencucian pusaka.
3. Kembali ke Lapang Borosngora — Meja Bundar
Setelah selesai pengajian dan berdoa di makam, pusaka-pusaka tersebut kembali diarak menuju Lapang Borosngora (atau Taman Borosngora). Di sinilah momen paling sakral terjadi, yaitu penyucian atau penjamasan benda-benda pusaka. Prosesi pencucian pusaka inti berlangsung di dekat Situ Lengkong, tepatnya di sebuah lokasi yang dikenal sebagai Meja Bundar. Meja Bundar adalah panggung atau meja khusus yang didirikan di Lapang Borosngora, menjadi pusat dari seluruh rangkaian acara.
4. Pencucian Pusaka di Meja Bundar
Benda-benda pusaka yang dibersihkan dalam upacara adat Nyangku berjumlah sepuluh pusaka, meliputi:
- Pedang Zulfikar – pusaka utama pemberian Sayidina Ali Bin Abi Thalib
- Kujang
- Keris Stok Komando
- Pedang
- Cis – senjata sejenis tombak
- Keris Komando
- Keris
- Gong kecil
Catatan: Terdapat beberapa pusaka lain yang disimpan secara khidmat dan tidak ditampilkan kepada publik. Penghormatan terhadap nilai sakral pusaka-pusaka tersebut senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat adat Panjalu.
Dari sepuluh pusaka tersebut, tiga benda yang diperlihatkan secara simbolis kepada masyarakat dan disaksikan oleh seluruh pengunjung, yakni Pedang Zulfikar, Kujang, dan Keris Stok Komando.
Pembersihan pusaka dilakukan dengan air suci (Tirta Kahuripan) yang berasal dari sembilan mata air yang dianggap sakral. Sumber mata air tersebut antara lain Situ Lengkong, Cipanjalu, Kapunduhan, Gunung Sawal, Kubang Kelong, Pasanggrahan, dan beberapa sumber lainnya. Air dari sembilan tempat tersebut dibawa menggunakan kele (bambu yang dilubangi bagian atasnya). Sebelum digunakan, air ini telah didoakan oleh para sesepuh adat.
Proses pencucian dilakukan dengan air dan jeruk nipis. Setelah dibersihkan, pusaka-pusaka tersebut diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus untuk keperluan upacara. Kemudian pusaka dibungkus kembali dengan lilitan janur dan tujuh lapis kain putih, lalu diikat dengan tali dari benang boeh. Benda-benda pusaka yang telah dibungkus dikeringkan dengan asap kemenyan sebelum akhirnya diarak kembali untuk disimpan di Pasucian Bumi Alit.
Makna filosofis dari ritual ini sangat dalam: pencucian pusaka secara simbolis adalah pembersihan diri pribadi dan hati. Seperti yang diungkapkan oleh pemangku adat, “Nyangku bukan hanya sekadar membersihkan benda pusaka tapi lebih kepada membersihkan diri pribadi atau hati, artinya kita harus bersih”.
Panduan Praktis untuk Wisatawan
Bagi Anda yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan Tradisi Nyangku, berikut beberapa panduan praktis:
Waktu dan Lokasi
- Tanggal: Senin, 7 September 2026 (25 Rabiul Awal 1448 H)
- Waktu Puncak: Prosesi pengeluaran pusaka dimulai sekitar pukul 07.30 WIB
- Lokasi Puncak: Meja Bundar, Lapang Borosngora (Taman Borosngora), Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
- Akses Masuk Situ Lengkong: Tersedia 24 jam setiap hari
Tips Sebelum Datang
- Datang Lebih Awal: Disarankan tiba sebelum pukul 05.30 WIB untuk menghindari kemacetan parah di pintu masuk Desa Panjalu dan mendapatkan spot parkir yang baik.
- Transportasi: Kawasan akan dipadati ribuan pengunjung dari dalam dan luar Ciamis. Dari pusat Kota Ciamis, jaraknya sekitar 35 km ke arah utara. Dari Bandung, perjalanan dapat ditempuh melalui jalur Ciawi menuju Panumbangan.
- Kendaraan: Tersedia area parkir untuk kendaraan roda dua, roda empat, dan bus pariwisata.
Peringatan Logistik untuk Pengunjung
- Kapasitas Parkir Terbatas: Area parkir yang tersedia sangat terbatas saat acara besar. Pengunjung disarankan untuk carpooling atau menggunakan kendaraan umum.
- Rekayasa Lalu Lintas: Pada hari puncak, mungkin terjadi rekayasa lalu lintas di pintu masuk Desa Panjalu. Ikuti arahan petugas di lapangan.
- Pos Kesehatan: Pos kesehatan dan ambulans disiagakan di sekitar Lapang Borosngora untuk antisipasi darurat.
Etika dan Perlengkapan
- Pakaian: Pengunjung disarankan mengenakan pakaian sopan dan rapi sebagai bentuk penghormatan terhadap upacara adat yang sakral. Pemakaian pakaian adat (ikat kepala dan baju pangsi) tidak diwajibkan bagi pengunjung.
- Perlengkapan: Bawa payung atau ponco mengingat cuaca yang tidak menentu, serta air minum pribadi.
Hal Penting yang Wajib Diketahui
- Akses ke Nusa Gede: Pada hari puncak Nyangku, pengunjung umum tidak diperkenankan naik ke Pulau Nusa Gede. Akses hanya untuk pembawa pusaka, keluarga kerajaan, dan rombongan adat.
- Tradisi Samida: Merupakan ritual pendahuluan yang bersifat kekeluargaan — masyarakat berkumpul membawa makanan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama. Wisatawan dapat menyaksikan dari kejauhan dengan tetap menjaga ketertiban.
- Fasilitas: Di kawasan wisata Situ Lengkong tersedia dermaga kayu, boardwalk, toilet, gazebo, mushola, pusat informasi, dan dispenser air minum.
Ajakan: Saksikan dan Rasakan Magisnya Panjalu
Bagi Anda para pencinta budaya, sejarah, atau sekadar wisatawan yang ingin merasakan atmosfer sakral dan meriah, Tradisi Nyangku adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan. Ribuan warga dari berbagai daerah akan hadir, memadati Lapang Borosngora dan kawasan Situ Lengkong untuk menyaksikan prosesi ini.
Ini adalah kesempatan emas untuk menyaksikan langsung kekayaan budaya yang masih hidup dan dilestarikan di Desa Panjalu. Datanglah, saksikan, dan rasakan sendiri bagaimana tradisi, sejarah, dan spiritualitas menyatu dalam sebuah perayaan yang megah.
