Situ Lengkong adalah danau bersejarah seluas 57,95 hektare di Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang menjadi cagar alam sejak 21 Februari 1919 dan pusat wisata religi, budaya, serta ekologi di kaki Gunung Sawal. Danau ini menyimpan Nusa Gede (Pulau Koorders), makam Prabu Hariang Kencana, dan tradisi tahunan Nyangku—tiga elemen yang menjadikannya destinasi unik di Priangan Timur.
Ringkasan Cepat
- Lokasi: Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
- Luas: 57,95 ha (danau) + 9,25 ha (Nusa Gede) = total 67,2 ha
- Kedalaman: 2–6 meter
- Ketinggian: 731 meter di atas permukaan laut (mdpl)
- Status: Cagar Alam sejak 21 Februari 1919
- Daya Tarik Utama: Nusa Gede, Makam Prabu Hariang Kencana, Tradisi Nyangku
- Akses: ±40 km dari Kota Ciamis, ±40 km dari Tasikmalaya, ±95 km dari Bandung
Apa Itu Situ Lengkong dan Di Mana Lokasinya?
Situ Lengkong adalah danau alami yang terletak di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pada ketinggian 731 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini berada di kaki Gunung Sawal dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum dari Kota Ciamis dengan waktu tempuh sekitar 1–1,5 jam.
Danau ini memiliki luas kurang lebih 57,95 hektare dengan pulau kecil di tengahnya bernama Nusa Gede seluas 9,25 hektare. Sejak 21 Februari 1919, kawasan Situ Lengkong dan Nusa Gede ditetapkan sebagai kawasan cagar alam yang dilindungi. Nusa Gede juga dikenal dengan nama Pulau Koorders, sebagai penghargaan kepada Dr. Koorders, ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Naturubescherming.
Mengapa Situ Lengkong Penting?
Situ Lengkong penting karena tiga alasan:
- Sejarah — Terkait dengan Kerajaan Panjalu dan penyebaran Islam di tatar Sunda.
- Budaya — Menjadi pusat tradisi Nyangku dan wisata religi.
- Ekologi — Berfungsi sebagai penampung air dan habitat flora-fauna endemik.
Siapa Prabu Hariang Kencana dan Apa Perannya?
Prabu Hariang Kencana adalah raja Panjalu dan tokoh penyebar agama Islam yang makamnya berada di Nusa Gede, menjadikan Situ Lengkong sebagai tujuan wisata religi. Ia adalah putra dari Prabu Borosngora, raja Panjalu Islam pertama.
Menurut tradisi lisan yang hidup di masyarakat Panjalu, Situ Lengkong erat dikaitkan dengan Prabu Borosngora. Ia dipercaya sebagai tokoh yang membawa pengaruh Islam ke wilayah Panjalu setelah menuntut ilmu hingga ke Makkah. Sejumlah catatan sejarah menyebut Panjalu sebagai bagian dari jaringan kerajaan Sunda–Galuh yang memiliki peran penting dalam sejarah tatar Sunda.
Siapa Prabu Borosngora?
Prabu Borosngora adalah tokoh yang dikaitkan dengan penyebaran Islam dan sejarah Panjalu. Ia merupakan putra kedua Adipati Singacala (Panjalu) yang bernama Prabu Cakradewa. Kisah tentang perjalanan spiritualnya, pusaka yang dibawa, dan mata air yang kemudian membentuk danau ini telah menjadi bagian dari identitas kolektif warga Panjalu.
Glosarium Entitas
| Entitas | Peran |
|---|---|
| Prabu Borosngora | Tokoh penyebar Islam, ayah Prabu Hariang Kencana |
| Prabu Hariang Kencana | Raja Panjalu, makamnya di Nusa Gede |
| Nusa Gede | Pulau kecil di tengah danau, kawasan sakral |
| Nyangku | Upacara adat tahunan membersihkan pusaka |
| Situ | Istilah Sunda untuk danau |
Apa Itu Nusa Gede dan Mengapa Sakral?
Nusa Gede adalah pulau kecil seluas 9,25 hektare di tengah Situ Lengkong yang ditetapkan sebagai cagar alam dan memiliki nilai budaya serta spiritual bagi masyarakat Panjalu. Di dalamnya terdapat makam Prabu Hariang Kencana dan museum kecil yang menyimpan benda pusaka dari masa purbakala.
Pulau ini ditutupi hutan lebat dan dijaga oleh aturan adat yang diwariskan turun-temurun. Pengunjung dapat menyeberang ke Nusa Gede menggunakan perahu motor atau perahu dayung yang disewakan warga lokal.
Etika Berkunjung ke Nusa Gede
- Berpakaian sopan.
- Menjaga ucapan dan perilaku.
- Tidak membuang sampah sembarangan.
- Mengikuti arahan juru kunci atau pengelola.
- Berkoordinasi dengan pengelola adat untuk kegiatan khusus.
Aturan ini disusun bersama tokoh adat dan pengelola untuk menjaga kelestarian kawasan. Menghormati adat adalah bagian dari pengalaman berkunjung yang bermakna.
Apa Itu Tradisi Nyangku?
Nyangku adalah upacara adat tahunan untuk membersihkan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora yang digelar setiap bulan Rabiulawal dan menarik ribuan wisatawan. Tradisi ini rutin dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud (Rabiulawal) oleh para keturunan dan masyarakat setempat.
Inti dari tradisi ini adalah pembukaan pembungkus pusaka dan pencucian setiap benda peninggalan menggunakan air dari sembilan mata air keramat. Air tersebut dicampur dengan jeruk nipis serta bunga setaman untuk membersihkan karat dan menjaga keawetan logam pusaka. Setelah proses pencucian selesai, pusaka-pusaka tersebut dikeringkan, diolesi minyak wangi khusus, lalu dibungkus kembali dengan kain putih untuk disimpan hingga tahun berikutnya.
Tradisi ini menjadi salah satu penanda bahwa Situ Lengkong bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang budaya yang hidup. Kehadiran museum pusaka Bumi Alit di dekat danau semakin memperkaya wawasan sejarah pengunjung.
Bagaimana Kondisi Ekologi Situ Lengkong?
Situ Lengkong berperan sebagai penampung air, pengatur tata air, dan habitat berbagai jenis ikan air tawar, burung, serta vegetasi sekitar, serta tidak terpisahkan dari ekosistem Gunung Sawal.
Kawasan Nusa Gede memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Flora yang dominan antara lain Kihaji (Dysoxylum sp.), Kondang (Ficus variegata), Huru (Litsea sp.), Kiara (Ficus sp.), Kileho (Saurauia blumiana), dan Bungur (Lagerstroemia speciosa). Tumbuhan bawah meliputi Rotan (Calamus sp.), Tepus (Amomum coccineum), dan Langkap (Arenga sp.).
Fauna yang dapat dijumpai antara lain Kalong (Pteropus vampyrus), Burung Hantu (Otus scops), Elang (Haliastur indus), Biawak (Varanus salvator), Ular Sanca (Python reticulatus), Trenggiling (Manis javanica), dan Gelatik (Munia sp.).
Ancaman dan Konservasi
Tantangan lingkungan yang dihadapi antara lain sampah, sedimentasi, dan pemanfaatan lahan di sekitar danau. Pemerintah Desa Panjalu bersama masyarakat, Pokdarwis, dan pemangku kepentingan terus mendorong konservasi, pengelolaan sampah, serta wisata ramah lingkungan.
Cara sederhana yang bisa dilakukan pengunjung:
- Membawa kembali sampah pribadi.
- Tidak memberi makan ikan sembarangan.
- Tidak menebang atau merusak vegetasi di tepi danau.
- Menggunakan air secara bijak.
Informasi Kunjungan
| Informasi | Keterangan |
|---|---|
| Jam kunjungan | 07.00–17.00 WIB |
| Tiket masuk | Rp5.000–Rp10.000 per orang |
| Tarif perahu | Rp10.000–Rp20.000 per orang (pulang-pergi) |
| Parkir | Rp2.000–Rp5.000 |
| Kontak pengelola | Kantor Desa Panjalu |
| Fasilitas | Parkir, musala, toilet, warung makan, dermaga |
Informasi dapat berubah sewaktu-waktu. Silakan konfirmasi ke pengelola resmi di lokasi atau melalui kantor desa.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah boleh berenang di Situ Lengkong?
Tidak disarankan. Danau ini memiliki kedalaman 2–6 meter dan merupakan kawasan cagar alam. Pengunjung diimbau tidak berenang demi keselamatan dan kelestarian lingkungan.
Apakah tersedia pemandu wisata?
Ya, pemandu lokal tersedia di lokasi. Pengunjung dapat meminta bantuan juru kunci atau Pokdarwis untuk penjelasan sejarah dan adat.
Apakah ada paket edukasi untuk sekolah?
Ya, pengelola menyediakan paket edukasi untuk sekolah dan kelompok belajar. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui kantor desa.
Bagaimana akses untuk pengunjung difabel?
Akses utama menuju danau sudah cukup baik, namun untuk menuju Nusa Gede hanya dapat diakses dengan perahu. Pengunjung difabel disarankan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengelola.
Apa saja yang dilarang di Nusa Gede?
Pengunjung dilarang membuang sampah, merusak vegetasi, berkata kasar, dan melakukan kegiatan yang melanggar adat. Untuk kegiatan khusus, wajib berkoordinasi dengan pengelola adat.
Kapan waktu terbaik berkunjung?
Waktu terbaik adalah pagi hari (07.00–10.00 WIB) atau sore hari (15.00–17.00 WIB) saat cuaca sejuk. Hindari hari libur nasional jika ingin suasana lebih tenang.
UMKM dan Kuliner Lokal
Di sekitar kawasan Situ Lengkong, warga mengembangkan usaha kuliner, kerajinan, dan jasa wisata. Kehadiran UMKM ini menjadi bagian dari denyut ekonomi desa. Pengunjung yang membeli produk lokal turut mendukung keberlanjutan ekonomi warga Panjalu.
Produk khas yang dapat dijumpai antara lain keripik singkong, gula aren, kopi Panjalu, dan anyaman bambu. Setiap pembelian Anda membantu warga sekitar tetap semangat menjaga kawasan.
Dukungan Pemerintah Desa
Pemerintah Desa Panjalu mendukung pelestarian Situ Lengkong melalui program pengelolaan sampah, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian adat. Dukungan ini dijalankan bersama Pokdarwis, BumDes, tokoh adat, dan warga.
Warga dan wisatawan diharapkan turut menjaga kebersihan, menghormati adat setempat, dan mendukung pelaku usaha lokal.
Menjaga Situ Lengkong Bersama
Situ Lengkong adalah warisan sejarah, budaya, dan ekologi. Menjaga kebersihannya, menghormati adat, serta mendukung pelaku usaha lokal adalah cara sederhana untuk merawat identitas Panjalu.
Mari menjelajahi Situ Lengkong dengan rasa kagum, tetapi juga dengan tanggung jawab. Karena menjaga Situ Lengkong berarti menjaga warisan Panjalu untuk generasi berikutnya.

