Nusa Gede adalah pulau seluas 9,25 hektar di tengah Situ Lengkong Panjalu, danau cagar alam tertua di Indonesia yang terletak di Desa Panjalu, Ciamis. Di pulau ini terdapat makam Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu Islam pertama, dan putranya Prabu Hariang Kencana. Untuk mencapai Nusa Gede, pengunjung harus menyeberang dengan perahu kayu tradisional (Rp15.000 per orang) dari dermaga Situ Lengkong. Harga tiket masuk danau adalah Rp10.000 per orang pada tahun 2026.
Kabut pagi masih setia menyelimuti permukaan Situ Lengkong saat saya tiba di dermaga. Udara dingin menusuk kulit, tetapi ada kehangatan aneh yang merayap di dada—seperti firasat bahwa perjalanan kecil ini akan membawa saya pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar wisata.
Perahu kayu tradisional itu bergoyang pelan saat saya melangkah masuk. Tidak ada mesin. Hanya dayung. Dan ketika dayung pertama memecah permukaan air, saya mendengar suara yang sudah lama hilang dari kehidupan kota: keheningan yang berisi.
Di kejauhan, sebuah pulau kecil muncul dari balik kabut. Bentuknya bulat, hijau, dan sunyi. Itulah Nusa Gede—pulau di tengah danau yang oleh masyarakat setempat juga disebut Nusa Larang. “Terlarang” bukan berarti angker. Larangan di sini adalah ajakan untuk menahan diri, untuk tidak berbicara terlalu keras, untuk datang dengan hati yang siap mendengar—bukan dengan kamera yang siap mengklik.
Sekilas tentang Situ Lengkong Panjalu
Situ Lengkong Panjalu adalah danau alami seluas 57,95 hektare yang terletak di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Danau ini telah ditetapkan sebagai cagar alam sejak 21 Februari 1919 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6, menjadikannya salah satu kawasan lindung tertua di Indonesia.
Danau ini berada di lereng Gunung Sawal pada ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut, dengan kedalaman air rata-rata 4 hingga 6 meter. Bentuknya yang melingkar seperti gelang—yang dalam bahasa Sunda disebut lengkong—memberi nama pada tempat ini.
Setelah menjalani revitalisasi tahap II, Situ Lengkong resmi dibuka kembali pada 1 Januari 2026 dengan konsep wisata ramah lingkungan yang mengutamakan pelestarian alam dan pemberdayaan ekonomi warga sekitar.
Nusa Gede: Pulau di Tengah Danau yang Menyimpan Sejarah
Nusa Gede adalah pulau seluas 9,25 hektare yang terletak persis di tengah Situ Lengkong. Pulau ini bukanlah daratan biasa. Berdasarkan penelitian Balai Arkeologi Jawa Barat, Nusa Gede diyakini sebagai lokasi istana, kepatihan, dan taman kerajaan Panjalu pada masa lalu. Danau itu sendiri berfungsi sebagai benteng pertahanan alami kerajaan—siapa pun yang ingin menyerbu pusat pemerintahan harus terlebih dahulu menyeberangi danau luas ini.
Saat ini, Nusa Gede berstatus sebagai kawasan cagar alam yang masih ditumbuhi hutan hujan tropis asli. Di dalamnya tumbuh berbagai jenis pohon yang rimbun, menciptakan suasana teduh dan sejuk bagi para peziarah.
Makam Prabu Sanghyang Borosngora dan Prabu Hariang Kencana
Di pulau inilah terdapat kompleks pemakaman khusus keluarga kerajaan Panjalu. Dua makam utama yang menjadi tujuan ziarah adalah:
Makam Prabu Sanghyang Borosngora — Raja Panjalu Islam pertama sekaligus tokoh penyebar Islam di Tatar Sunda. Beliau adalah sosok karismatik yang membawa ajaran Islam ke wilayah Priangan Timur.
Makam Prabu Hariang Kencana (juga dikenal sebagai Syekh Panjalu atau Mbah Panjalu) — putra Prabu Sanghyang Borosngora yang juga pernah menjadi raja Panjalu dan meneruskan perjuangan dakwah ayahnya.
Tidak ada makam mewah di sini. Hanya nisan-nisan tua yang ditutupi kain putih, dan di antaranya, angin yang berbisik seperti orang sedang membaca doa. Ribuan peziarah datang setiap tahun dari berbagai daerah—Jakarta, Bandung, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur—untuk menyentuh tanah di mana sejarah pernah berdenyut.
“Saya dari Kediri datang satu rombongan bus ke sini untuk ziarah ke makam yang ada di tengah pulau itu,” ungkap Dwi, seorang peziarah dari Kediri, kepada TribunJabar.
Museum Bumi Alit: Menyimpan Pusaka Kerajaan
Di sekitar kawasan danau, terdapat Museum Bumi Alit yang menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Panjalu:
| Koleksi | Keterangan |
|---|---|
| Pedang Zulfikar | Pemberian Sayyidina Ali kepada Prabu Borosngora |
| Cis & Genta | Pusaka kerajaan yang digunakan dalam upacara adat |
| Menhir | Batu penanda situs bersejarah |
| Batu Penyucian | Digunakan dalam ritual pembersihan pusaka |
| Batu Penobatan | Tempat penobatan raja-raja Panjalu |
Penjaga museum—biasanya seorang tetua adat—akan bercerita dengan mata berbinar tentang setiap benda, seolah-olah ia sedang memperkenalkan anggota keluarganya sendiri kepada Anda.
Tradisi Nyangku: Ritual Pembersihan Pusaka Leluhur
Setiap tahun, pada Senin atau Kamis terakhir bulan Maulud (Rabiul Awal) , masyarakat Panjalu menggelar Upacara Adat Nyangku.
Nyangku adalah rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para raja Panjalu. Nama “Nyangku” berasal dari dua kata:
- Bahasa Arab yanko — berarti membersihkan
- Bahasa Sunda nyaangan laku — berarti menerangi perilaku
Dalam prosesi ini, pusaka-pusaka kerajaan dikeluarkan dari Museum Bumi Alit, diarak menuju Nusa Gede untuk berziarah ke makam leluhur, lalu kembali ke daratan utama untuk proses penyucian di Alun-alun Borosngora.
Maksud dari upacara ini bukan sekadar membersihkan benda pusaka. Lebih dari itu, ini adalah pengingat bahwa membersihkan pusaka leluhur harus diiringi dengan membersihkan hati dan niat. Ini adalah waktu untuk berintrospeksi diri, mengkritisi diri sendiri, dan mengakui perbuatan yang tidak sesuai dengan norma adat dan norma agama.
Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Dian Budiyana, mengatakan bahwa upacara adat Nyangku tidak hanya sekadar jamasan pusaka, tetapi juga menjadi jembatan yang menyatukan generasi. “Di tengah arus modernisasi yang semakin maju, masyarakat Panjalu tetap teguh menjaga dan melestarikan budaya,” tuturnya.
Panduan Praktis Ziarah ke Nusa Gede
Harga Tiket dan Biaya 2026
| Komponen Biaya | Besaran Biaya |
|---|---|
| Tiket Masuk Situ Lengkong | Rp10.000 per orang |
| Sewa Perahu (PP ke Nusa Gede) | Rp15.000 per orang |
| Parkir Motor | Rp2.000 |
| Parkir Mobil | Rp5.000 |
Hal Penting:
- Harga tiket naik dari Rp7.500 menjadi Rp10.000 pada tahun 2026.
- Sewa perahu memiliki batas minimal penumpang (15-20 orang). Disarankan datang bersama rombongan.
- Bawalah uang tunai karena sinyal untuk pembayaran digital sering tidak stabil.
Rute dan Akses Menuju Situ Lengkong
| Asal | Jarak | Waktu Tempuh |
|---|---|---|
| Kota Ciamis | ±35 km | ±45-60 menit |
| Bandung | ±100 km | ±2-3 jam |
| Tasikmalaya | ±50 km | ±1,5 jam |
Rute dari Kota Ciamis: Ciamis → Cijeungjing → Panawangan → Panjalu.
Tips Berkunjung
- Datanglah pagi hari (05.30–09.00 WIB) untuk menikmati kabut dan suasana tenang.
- Kenakan pakaian sopan saat akan berziarah ke Nusa Gede. Jika lupa, kain/sarung tersedia di dermaga.
- Jaga ketenangan—pulau ini adalah tempat sakral.
- Bawa uang tunai karena sinyal pembayaran digital sering tidak stabil.
- Jaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Nusa Gede di Situ Lengkong Panjalu?
Nusa Gede adalah pulau seluas 9,25 hektar yang terletak di tengah Situ Lengkong Panjalu. Pulau ini merupakan pusat spiritual dan sejarah, tempat dimakamkannya Prabu Sanghyang Borosngora, Raja Panjalu Islam pertama, dan putranya Prabu Hariang Kencana.
Berapa harga tiket masuk Situ Lengkong Panjalu 2026?
Harga tiket masuk adalah Rp10.000 per orang. Sewa perahu pulang-pergi ke Nusa Gede Rp15.000 per orang, parkir motor Rp2.000, dan parkir mobil Rp5.000.
Bagaimana cara menuju Nusa Gede?
Nusa Gede dapat dicapai dengan perahu kayu tradisional dari dermaga Situ Lengkong. Perjalanan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Perahu dikelola oleh warga setempat dan memiliki kapasitas 15-20 penumpang.
Kapan waktu terbaik untuk ziarah ke Nusa Gede?
Waktu terbaik adalah pagi hari pukul 05.30 – 09.00 WIB saat kabut tipis masih menyelimuti danau. Untuk ziarah ke makam, disarankan datang pukul 08.00 – 15.00 WIB.
Apa itu tradisi Nyangku di Panjalu?
Nyangku adalah upacara adat tahunan pembersihan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora. Kata Nyangku berasal dari bahasa Arab “yanko” (membersihkan) dan bahasa Sunda “nyaangan laku” (menerangi perilaku). Dilaksanakan pada bulan Maulud (Rabiul Awal).
Apakah Nusa Gede hanya untuk ziarah?
Tidak. Selain ziarah, pengunjung dapat menikmati keindahan hutan tropis di pulau ini, belajar sejarah Kerajaan Panjalu di Museum Bumi Alit, dan menikmati pemandangan danau dari ketinggian.
Menyeberang ke Nusa Gede bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan menuju sejarah, menuju makna, dan—jika Anda membiarkannya—menuju diri Anda sendiri.
Situ Lengkong Panjalu dan Nusa Gede mengajarkan sesuatu yang sederhana namun sulit ditemukan di tempat lain: bahwa keheningan bukanlah ketiadaan suara, tetapi ruang di mana suara-suara yang paling penting—bisikan sejarah, gemerisik dedaunan, doa-doa para peziarah, dan detak jantung kita sendiri—akhirnya bisa didengar.
Jadi, jika suatu hari Anda merasa perlu menyeberang—bukan sekadar menyeberangi danau, tetapi menyeberangi kebisingan dunia menuju ketenangan—datanglah ke sini. Biarkan perahu kayu itu membawa Anda ke tengah danau. Biarkan kabut menyelimuti bahu Anda. Dan biarkan Nusa Gede mengingatkan Anda bahwa terkadang, untuk menemukan jawaban, kita harus bersedia kehilangan arah sejenak.
Rencanakan ziarah Anda ke Nusa Gede sekarang! Pastikan membawa uang tunai, datang pagi hari, dan hormati nilai sakral pulau ini. Untuk informasi terbaru tentang harga dan jadwal, hubungi pengelola wisata Situ Lengkong Panjalu atau kunjungi website resmi Desa Panjalu.
