Panjalu, Ciamis – Suasana sakral menyelimuti kawasan Situ Lengkong, Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, pada Senin (7/9/2026). Ribuan warga, tokoh adat, budayawan, serta jajaran Forkopimda Ciamis memadati area Pasanggrahan untuk mengikuti puncak Tradisi Adat Nyangku .
Tradisi tahunan yang digelar setiap bulan Maulid (Rabiul Awal) ini merupakan ritual pembersihan benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu . Lebih dari sekadar membersihkan pusaka, Nyangku adalah manifestasi rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan penguat tali silaturahmi antarwarga.
“Ini seperti lebaran kedua bagi kami,” ujar Agus Gusnawan, Pemangku Adat Panjalu, menggambarkan antusiasme masyarakat yang kembali berkumpul dari berbagai daerah .
Apa Itu Tradisi Nyangku Panjalu?
Nyangku adalah upacara adat tahunan berupa pencucian dan penyucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu . Istilah Nyangku sendiri memiliki dua penafsiran: sebagian sesepuh mengartikannya sebagai akronim dari nyaangan laku dalam Bahasa Sunda (menerangi perilaku atau membersihkan diri), sementara yang lain menelusuri asal katanya dari bahasa Arab, yanko, yang berarti membersihkan .
Bagi masyarakat Panjalu, momen ini adalah waktu untuk berintrospeksi diri dari perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama dan adat .
Sejarah dan Asal-Usul Nyangku
Sejarah Upacara Nyangku berakar pada masa Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, raja Panjalu pertama yang memeluk dan menyebarkan agama Islam di wilayah Panjalu . Konon, sang raja menempuh perjalanan jauh hingga ke tanah suci Mekah untuk menuntut ilmu agama. Kepulangannya dari Mekah menjadikannya raja pertama yang secara resmi menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam .
Selain untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tradisi ini dilaksanakan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora dan raja-raja Panjalu yang telah menyebarkan ajaran Islam .
Status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Sejak tahun 2017, Tradisi Nyangku telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia . Pengakuan ini menjadikan Nyangku bukan hanya milik masyarakat Panjalu atau Ciamis, melainkan aset budaya nasional yang wajib dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus .
Rangkaian Prosesi Tradisi Nyangku
Pelaksanaan Nyangku 2026 mengikuti pakem adat yang khas. Berdasarkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, berikut rangkaian acaranya :
| Tahap | Acara | Keterangan |
|---|---|---|
| H-7 | Tradisi Samida | Ritual makan bersama (sami-sami dahar) sebagai persiapan batin, syukur, dan penguatan silaturahmi |
| Malam | Kesenian & Budaya | Pertunjukan seni tradisional sebagai hiburan dan pengenalan budaya kepada generasi muda |
| Hari H | Puncak Nyangku | Prosesi inti pembersihan pusaka |
Prosesi Puncak Nyangku
Rangkaian ritual puncak yang berlangsung khidmat terdiri dari beberapa tahapan:
- Tawasul dan Persiapan di Museum Bumi Alit: Prosesi diawali dengan pembacaan doa dan persiapan pusaka di tempat penyimpanannya. Pusaka yang dikeluarkan antara lain Pedang Zulfikar, cis, bangreng, keris, dan gong peninggalan Kerajaan Panjalu .
- Arak-arakan dan Penyeberangan ke Nusa Gede: Pusaka-pusaka tersebut diarak menuju tepi Situ Lengkong, lalu diseberangkan menggunakan perahu tradisional ke Pulau Nusa Gede yang berada di tengah danau . Di pulau ini, rombongan berziarah ke makam Prabu Hariang Kencana dan melakukan tawasul memohon keselamatan .
- Puncak Gelar Pusaka (Ngaberesihan): Setelah kembali ke daratan, prosesi berlanjut di Lapangan Pasanggrahan. Di sinilah puncak acara berlangsung. Pusaka-pusaka dimandikan atau dibersihkan menggunakan air Tirta Kahuripan yang dikumpulkan dari 52 mata air dari berbagai daerah, diiringi shalawat bersama . Perubahan Lokasi 2026: Pencucian benda pusaka tahun ini digelar di Pasanggrahan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang berlangsung di Alun-alun Panjalu atau Taman Borosngora .
- Ngabrakeun (Pengembalian Pusaka): Setelah disucikan, seluruh pusaka dikembalikan ke Museum Bumi Alit melalui prosesi penutup yang disebut Ngabrakeun .
Makna dan Nilai Filosofis Nyangku
Tradisi Nyangku memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual pembersihan benda pusaka:
1. Penghormatan kepada Leluhur
Nyangku menjadi sarana untuk mengenang jasa para leluhur, terutama Prabu Borosngora yang dipercaya membawa dan menyebarkan ajaran Islam di Panjalu . Pedang Zulfikar yang menjadi pusaka utama diyakini sebagai cenderamata dari Sayidina Ali yang diberikan kepada Prabu Borosngora ketika belajar Islam di Mekah .
2. Simbol Pembersihan Diri
Bagi masyarakat Panjalu, Nyangku bukan sekadar ritual adat tahunan. Tradisi tersebut memiliki makna mendalam sebagai simbol membersihkan atau menyucikan diri serta bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada para leluhur .
3. Penguatan Silaturahmi
Nyangku menjadi momentum berkumpulnya warga dan keluarga yang berada di berbagai daerah, menjadikannya seperti “lebaran kedua” bagi masyarakat Panjalu .
4. Nilai Gotong Royong
Keberhasilan gelaran Nyangku tidak lepas dari semangat gotong royong yang mengakar kuat—mulai dari panitia adat, Yayasan Borosngora, tokoh masyarakat, hingga generasi muda bahu-membahu menyukseskan acara .
Nyangku sebagai Penggerak Ekonomi dan Wisata
Tradisi Nyangku bukan hanya menyuburkan budaya, tetapi juga menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat sekitar:
- UMKM Tumbuh: Ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah menciptakan efek berganda bagi pelaku UMKM lokal di bidang kuliner, kerajinan, akomodasi, dan transportasi.
- Destinasi Wisata Terintegrasi: Pemerintah daerah mendukung pengembangan tradisi ini sebagai aset wisata budaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat .
- Branding Ciamis: Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Ciamis membidik Nyangku sebagai ikon wisata budaya-religi unggulan di Jawa Barat.
Info Praktis Wisata Situ Lengkong Panjalu
Bagi Anda yang berniat mengunjungi kawasan Situ Lengkong Panjalu, berikut informasinya:
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Lokasi | Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46264 |
| Tiket Masuk | Rp10.000/orang (termasuk asuransi) |
| Sewa Perahu (PP) | Rp15.000/orang |
| Parkir Mobil | Rp10.000 |
| Jam Operasional | 24 jam (waktu terbaik pagi hari) |
| Luas Danau | 57,95 hektare, danau cagar alam tertua di Indonesia |
Pesan Bupati Ciamis untuk Generasi Muda
Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, yang hadir di tengah-tengah warga, menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja kolektif tersebut:
“Tradisi Nyangku ini untuk meneladani jejak kebaikan para leluhur, untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.”
Beliau juga menekankan bahwa Nyangku merupakan warisan budaya luhur sekaligus sarana merawat kearifan lokal dan mempererat silaturahmi antarwarga . Bupati mendorong para pemuda untuk lebih aktif mengenali dan melanjutkan jejak karuhun sebagai kompas moral di tengah arus modernisasi.
FAQ: Pertanyaan Seputar Tradisi Nyangku
Kapan Tradisi Nyangku dilaksanakan?
Upacara adat Nyangku secara turun-temurun dilaksanakan setiap tahun pada hari Senin atau Kamis terakhir bulan Maulid (Rabiul Awal) .
Di mana lokasi pelaksanaan Nyangku?
Berpusat di kawasan Situ Lengkong dan Pasanggrahan, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat .
Apa saja pusaka yang dibersihkan dalam Tradisi Nyangku?
Pusaka utama adalah Pedang Zulfikar peninggalan Prabu Borosngora, serta cis, bangreng, keris, gong, dan berbagai pusaka lainnya .
Apa makna di balik Tradisi Nyangku?
Nyangku bermakna sebagai penghormatan kepada leluhur, simbol pembersihan diri, penguatan silaturahmi, dan pelestarian warisan budaya .
Apakah Nyangku sudah diakui secara nasional?
Ya, sejak 2017 Nyangku telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia .
Penutup: Merawat Identitas untuk Masa Depan
Nyangku Panjalu 2026 telah meninggalkan kesan mendalam. Lebih dari sekadar pesta rakyat, tradisi ini adalah cermin jati diri masyarakat Panjalu: religius, gotong royong, dan menghormati sejarah. Di tengah gempuran budaya asing, eksistensi Nyangku menjadi benteng identitas sekaligus jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
