Wisata Situ Lengkong Panjalu: Sejarah, Tradisi Nyangku, Dayung, dan Kuliner Khas

Wisata Situ Lengkong Panjalu: Sejarah, Tradisi Nyangku, Dayung, dan Kuliner Khas

Wisata Situ Lengkong Panjalu adalah destinasi unggulan Desa Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berupa danau bersejarah seluas 57,95 hektare yang telah ditetapkan sebagai cagar alam sejak 21 Februari 1919. Di tengah danau terdapat Pulau Nusa Gede seluas 9,25 hektare yang menjadi lokasi makam Prabu Hariang Kancana. Wisata Situ Lengkong Panjalu menggabungkan sejarah Kerajaan Panjalu, tradisi adat Nyangku, ekowisata dayung, dan kuliner khas dalam satu kawasan yang menakjubkan.

Bagi wisatawan yang mencari destinasi yang tidak sekadar indah secara visual, wisata Situ Lengkong Panjalu menawarkan pengalaman yang jarang ditemukan di tempat lain. Di samping danau legendaris dan pulau sakral, kawasan ini juga menyajikan tradisi adat yang telah berlangsung berabad-abad. Selain itu, tersedia pula kuliner khas yang otentik serta aktivitas ekowisata yang membumi. Semua tersaji dalam satu kawasan yang terletak pada ketinggian 731 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Menjelajahi Situ Lengkong: Danau Bersejarah di Kaki Gunung Sawal | Sejarah Desa Panjalu

Apa Itu Wisata Situ Lengkong Panjalu?

Wisata Situ Lengkong Panjalu adalah danau bersejarah yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu pada masa lampau, sekaligus cagar alam yang dilindungi sejak era Hindia Belanda. Danau ini memiliki luas 57,95 hektare dengan kedalaman air berkisar antara 2 hingga 6 meter. Sementara itu, Pulau Nusa Gede di tengahnya memiliki luas 9,25 hektare dan ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk melindungi flora dan fauna endemiknya.

Kawasan ini menyajikan pemandangan air yang tenang dengan latar belakang perbukitan hijau yang asri. Udara sejuk khas dataran tinggi senantiasa menyapa setiap pengunjung yang datang untuk melepaskan penat dari hiruk-pikuk perkotaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kawasan ini menjadi salah satu tujuan favorit di Priangan Timur.

Daya tarik utamanya terletak pada Nusa Gede. Pulau kecil itu ditutupi hutan lebat dan menjadi rumah bagi makam Prabu Hariang Kancana. Prabu Hariang Kancana sendiri merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam dan raja Panjalu pada masa lampau. Informasi lebih lengkap mengenai danau ini dapat dibaca pada halaman Situ Lengkong Panjalu.

Mengapa Wisata Situ Lengkong Panjalu Layak Dikunjungi?

Wisata Situ Lengkong Panjalu menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain. Selain sejarah kerajaan kuno dan tradisi adat yang masih hidup, kawasan ini juga memiliki ekosistem cagar alam yang terjaga. Di samping itu, tersedia aktivitas ekowisata yang menyenangkan serta kuliner otentik — semuanya dengan biaya yang sangat terjangkau.

Bagi pecinta sejarah, Nusa Gede adalah jendela menuju masa kejayaan Kerajaan Panjalu. Sementara itu, bagi pencinta alam, hutan primer dan fauna endemiknya adalah surga tersendiri. Adapun bagi wisatawan budaya, Nyangku adalah pengalaman spiritual yang tak terlupakan.

Baca juga: Wisata Santai Situ Lengkong: Panduan Menikmati Danau Tanpa Terburu-buru | 5 Pengalaman Unik di Situ Lengkong Panjalu yang Wajib Dicoba

Sejarah Situ Lengkong: Jejak Kerajaan Panjalu

Situ Lengkong tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kerajaan Panjalu, salah satu kerajaan besar di wilayah Tatar Sunda pada masa lampau. Dengan demikian, memahami kawasan ini berarti juga memahami jejak peradaban Sunda kuno.

Prabu Borosngora dan Asal-Usul Danau

Sejarah mencatat bahwa Prabu Sanghyang Borosngora adalah sosok penting yang pertama kali membawa dan menyebarkan ajaran Islam di tanah Panjalu. Dalam Babad Panjalu, dikisahkan bahwa Prabu Borosngora adalah buyut dari Sanghiyang Ratu Permanadewi, Ratu Kerajaan Soka Galuh yang membawa ajaran kerahayuan (kemakmuran).

Menurut tradisi lisan dan Babad Panjalu yang diwariskan turun-temurun, kisah asal-usul air Situ Lengkong bermula ketika Prabu Borosngora membawa air zamzam dalam sebuah gayung yang bocor. Setibanya di Panjalu, air tersebut ditumpahkan dan menjelma menjadi danau yang kini dikenal sebagai Situ Lengkong.

Tradisi lisan ini memiliki beberapa versi penafsiran. Sebagian sumber meyakini Pedang Zulfikar yang disimpan di Bumi Alit merupakan cenderamata dari Sayidina Ali RA. Namun, sumber lain meyakini pedang tersebut merupakan hadiah dari Prabu Siliwangi. Meskipun demikian, keberadaan versi-versi ini justru memperkaya khazanah sejarah lisan Panjalu.

Nusa Gede: Pulau Sakral di Tengah Danau

Di tengah Situ Lengkong, Nusa Gede berdiri sebagai cagar alam seluas 9,25 hektare dengan vegetasi hutan primer yang relatif utuh. Pada tanggal 21 Februari 1919, kawasan Situ Lengkong dengan Nusa Gede dinyatakan sebagai kawasan cagar alam. Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 6 menetapkan status perlindungan ini. Selanjutnya, status tersebut diperkuat dengan penunjukan Pulau Nusa Gede sebagai Pulau Koorders dan Cagar Alam Koorders.

Di dalam Nusa Gede, terdapat makam Prabu Hariang Kancana yang menjadi tujuan utama peziarah. Profil lengkap kawasan konservasi ini dapat dibaca pada halaman Cagar Alam Nusa Larang.

Tradisi Nyangku: Ritual Adat yang Menghidupi Warga

Upacara adat penyucian benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai Tradisi Nyangku. Tradisi ini digelar setiap bulan Rabiul Awal (Mulud) dalam kalender Hijriah. Selain itu, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dan menjadi mesin ekonomi yang menggerakkan hampir seluruh lapisan warga Desa Panjalu.

Kapan Nyangku Digelar?

Pelaksanaan tradisi sakral ini rutin dilakukan pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud (Rabiulawal) oleh para keturunan dan masyarakat setempat. Tradisi Nyangku kembali digelar masyarakat Panjalu pada Senin, 7 September 2026, di Pasanggrahan Panjalu. Prosesi tersebut menjadi momentum untuk merawat benda-benda pusaka peninggalan leluhur sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Bupati Ciamis, H. Herdiat Sunarya, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan budaya luhur yang memiliki nilai sejarah, spiritualitas, kebersamaan dan kearifan lokal yang harus terus dijaga. Penjelasan lengkap mengenai tata cara dan makna ritual ini tersedia di halaman Upacara Adat Nyangku.

Apa Saja Rangkaian Upacara Nyangku?

Rangkaian upacara Nyangku terdiri dari lima tahapan utama:

  1. Pengambilan air keramat (tirta kahuripan) dari sejumlah mata air yang tersebar di Desa Panjalu dan sekitarnya. Berbagai sumber menyebutkan jumlah yang berbeda — sebagian merujuk pada tujuh mata air, sebagian lain menyebutkan sembilan. Perbedaan ini mencerminkan keberagaman penafsiran yang memperkaya khazanah budaya Panjalu.
  2. Pengeluaran benda pusaka dari tempat penyimpanannya di Bumi Alit menuju Nusa Gede. Pusaka-pusaka tersebut digendong oleh para keturunan Raja Panjalu dengan diiringi sholawat dan musik tradisional seperti terbang seureuh.
  3. Prosesi penyeberangan menggunakan perahu melintasi danau menuju lokasi pembersihan utama di Nusa Gede.
  4. Penjamasan atau pencucian pusaka menggunakan air keramat yang dicampur dengan jeruk nipis serta bunga setaman.
  5. Pengeringan dan penyimpanan kembali — pusaka dikeringkan, diolesi minyak wangi khusus, lalu dibungkus kembali dengan kain putih.

Lebih dari sekadar pembersihan benda bersejarah, upacara adat Nyangku memiliki makna simbolis untuk menyucikan diri dan hati manusia dari segala dosa serta keburukan.

Salah satu pusaka utama yang dijamas adalah Pedang Zulfikar yang diyakini merupakan cenderamata dari Sayidina Ali. Pemangku Adat sekaligus tokoh masyarakat Panjalu, Agus Gusnawan, menyebut bahwa jumlah pusaka yang disucikan mencapai ratusan hingga ribuan. Pusaka tersebut meliputi keris dan berbagai benda adat peninggalan keluarga maupun masyarakat.

Dampak Ekonomi Nyangku bagi Warga Panjalu

Selama rangkaian Nyangku, ribuan warga dan wisatawan dari berbagai daerah berkumpul di Panjalu. Puluhan pedagang kaki lima menjajakan kuliner khas di sekitar kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu. Selain itu, penginapan warga penuh. Jasa parkir, penyewaan perahu, dan pemandu lokal juga mendapat permintaan berlipat.

Yang membuat Nyangku istimewa bukan hanya skalanya, tetapi cara ia dikelola. Pemerintah Desa Panjalu bekerja bersama tokoh adat, BUMDes, dan Pokdarwis untuk memastikan tradisi ini tetap sakral sekaligus memberi manfaat ekonomi yang adil.

“Tradisi Nyangku merupakan warisan budaya luhur sekaligus sarana untuk merawat kearifan lokal dan memperteguh silaturahmi antarmasyarakat.”
— H. Herdiat Sunarya, Bupati Ciamis

Dayung di Situ Lengkong: Aktivitas Wisata Air

Tarif dayung di Situ Lengkong: short trip 30 menit Rp60.000 per orang, long trip mengelilingi Nusa Gede Rp100.000 per orang. Aktivitas ini dikelola oleh Kancra Kayaking — operator wisata air yang telah beroperasi sejak 2020 — dengan pemandu lokal dari pemuda Desa Panjalu.

Berapa Tarif Dayung di Situ Lengkong?

Pengelola Kancra Kayaking mengatakan terdapat dua jenis sarana dayung yang dapat dipilih pengunjung. Pilihan pertama adalah kayak dengan posisi duduk, sedangkan pilihan kedua adalah stand-up paddle yang digunakan dengan posisi berdiri di atas papan.

PaketDurasiTarifDeskripsi
Short Trip30 menitRp60.000/orangMenikmati panorama danau dari dekat
Long TripLebih dari 30 menitRp100.000/orangMengelilingi Nusa Gede + wisata edukasi ekosistem

Siapa Pemandu Dayung Situ Lengkong?

Pemandu dayung di Situ Lengkong sebagian besar adalah pemuda Desa Panjalu. Salah satunya adalah seorang pemuda setempat yang juga merupakan anggota Galuh Scout Rescue (GSR) dan rescue BPBD Ciamis. Mereka dilatih tidak hanya untuk mendayung, tetapi juga untuk bercerita — tentang legenda Prabu Borosngora, tentang ekosistem Nusa Gede, tentang mengapa air Situ Lengkong dianggap berkah.

Kancra Kayaking juga telah menarik wisatawan dari berbagai daerah. Selain pengunjung dari wilayah Priangan Timur yang datang terutama pada akhir pekan, wisatawan dari Jakarta, sejumlah daerah di luar Jawa hingga mancanegara juga tercatat pernah menjajal aktivitas dayung di Situ Lengkong.

BUMDes Rahayu Waluya Panjalu memiliki peran penting dalam penyertaan modal usaha dan pemberdayaan pelaku wisata lokal. Selain itu, BUMDes juga mendukung pengembangan pasar wisata di sekitar Situ Lengkong.

Nusa Gede: Cagar Alam dan Laboratorium Hidup

Kawasan konservasi seluas 9,25 hektare di tengah Situ Lengkong ini dikenal sebagai Nusa Gede. Kawasan ini telah dilindungi sejak 21 Februari 1919 dan memiliki vegetasi hutan primer yang relatif utuh. Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna endemik. Adapun area yang dibuka untuk ziarah hanyalah makam Prabu Hariang Kancana; kawasan inti cagar alam tidak dibuka untuk kunjungan wisata umum.

Flora dan Fauna di Nusa Gede

Vegetasi Nusa Gede masih dalam kondisi utuh meskipun kawasan ini telah lama digunakan sebagai lokasi ziarah. Beberapa jenis flora yang dapat ditemui di kawasan ini antara lain:

  • Kihaji (Dysoxylum sp.)
  • Kileho (Saurauia blumiana)
  • Kondang (Ficus variegata)

Penelitian vegetasi tingkat pohon dan tiang di Cagar Alam Nusa Gede menunjukkan bahwa jenis dengan Indeks Nilai Penting (INP) terbesar pada tingkat pohon adalah Chisocheton microcarpus (73,43%), diikuti Litsea noronhae (58,76%). Kawasan ini juga menjadi rumah bagi berbagai fauna menarik. Di antaranya adalah burung hantu (Otus scops), kalong (Pteropus vampyrus), dan tupai (Calosciurus nigrittatus).

Etika Berkunjung ke Nusa Gede

Nusa Gede adalah kawasan sakral. Wisatawan diharapkan berpakaian sopan, tidak berisik, dan mengikuti arahan pemandu atau kuncen. Dilarang membuang sampah sembarangan atau mengambil flora dan fauna dari kawasan cagar alam.

Bagi wisatawan, menyeberang ke Nusa Gede bukan sekadar ziarah. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam — tanpa mengeksploitasinya, tanpa merusaknya.

Baca juga: 25 Kg Sampah Setiap Minggu di Situ Lengkong: Apa yang Dilakukan Desa Panjalu?

Kuliner Khas Panjalu: Jawadah Takir, Kalua Jeruk, Saroja

Beragam camilan tradisional menjadi ciri khas Panjalu, mulai dari Jawadah Takir, Kalua Jeruk, Saroja, hingga Kerupuk Endoy. Semuanya tersedia di gerai UMKM sekitar kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu.

Di Mana Membeli Kuliner Khas Panjalu?

Produk kuliner khas Panjalu dapat dibeli di gerai-gerai UMKM di sekitar kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu. Kehadiran UMKM ini tidak hanya menambah kenyamanan wisatawan untuk membawa oleh-oleh khas daerah. Selain itu, kehadirannya juga memberdayakan ekonomi masyarakat lokal.

Berapa Harga Jawadah Takir?

Jawadah Takir adalah camilan manis yang terbuat dari tepung beras yang diolah dengan kelapa parut dan gula merah. Makanan buhun khas Panjalu ini muncul di Dusun Garahang dan sudah lama turun-temurun sejak 100 tahun yang lalu. Harga Jawadah Takir berkisar antara Rp5.000 hingga Rp25.000 per bungkus.

Kalua Jeruk adalah manisan yang terbuat dari kulit jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren. Saroja adalah kudapan yang bentuknya menyerupai kembang seroja. Selain itu, terdapat Kerupuk Endoy yang tetap diproduksi secara tradisional dan dijual curah.

Selengkapnya mengenai Jawadah Takir dapat dibaca pada halaman Wisata Gastronomi Panjalu : Jawadah Takir.

Yang membuat kuliner ini istimewa bukan hanya rasanya, tetapi rantai ekonominya. Setiap pembelian Jawadah Takir berpotensi menghidupi setidaknya tiga mata rantai ekonomi lokal, yaitu petani bahan baku, pengrajin kemasan, dan produsen rumahan.

Panduan Wisata Situ Lengkong Panjalu

Bagaimana Akses ke Situ Lengkong?

Situ Lengkong terletak di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dari pusat Kota Ciamis, jarak tempuh sekitar 35–41 km. Dengan kendaraan pribadi, perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam tergantung kondisi jalan.

Berapa Tiket Masuk Situ Lengkong?

Tiket masuk Situ Lengkong sekitar Rp10.000 per orang, sudah termasuk asuransi kecelakaan, kebersihan, dan pengelolaan. Untuk menyeberang ke Nusa Gede, tersedia perahu dengan tarif yang berlaku di lokasi. Wisatawan disarankan menanyakan tarif terkini langsung kepada pengelola atau petugas di dermaga.

Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?

Kawasan wisata buka 24 jam dan beroperasional setiap hari. Disarankan datang pagi hari mulai pukul 08.00 WIB agar bisa menikmati suasana tenang dan udara segar sebelum keramaian. Untuk pengalaman budaya yang tak terlupakan, rencanakan kunjungan pada bulan Rabiul Awal untuk menyaksikan Nyangku.

Etika Berkunjung. Nusa Gede adalah kawasan sakral. Wisatawan diharapkan berpakaian sopan, tidak berisik, dan mengikuti arahan pemandu atau kuncen.

Cara Berkontribusi. Pilih pemandu lokal. Beli kuliner dari pedagang desa. Sewa perahu dari warga.

Baca juga: Layanan Publik Terpadu Desa Panjalu: Panduan Lengkap Anjungan Mandiri | Posyandu Desa Panjalu Kini Layani 6 Bidang: Panduan Lengkap untuk Warga

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Berapa tiket masuk wisata Situ Lengkong Panjalu?

Tiket masuk wisata Situ Lengkong Panjalu sekitar Rp10.000 per orang, sudah termasuk asuransi kecelakaan, kebersihan, dan pengelolaan. Untuk menyeberang ke Nusa Gede, tersedia perahu dengan tarif yang berlaku di lokasi. Wisatawan disarankan menanyakan tarif terkini kepada pengelola.

Kapan tradisi Nyangku digelar?

Tradisi Nyangku digelar setiap bulan Rabiul Awal (Mulud) dalam kalender Hijriah, tepatnya pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud, sebagai upacara adat penyucian benda pusaka peninggalan Prabu Borosngora.

Berapa tarif dayung di Situ Lengkong?

Tarif dayung: short trip 30 menit Rp60.000/orang, long trip mengelilingi Nusa Gede Rp100.000/orang. Dikelola oleh Kancra Kayaking dengan pemandu lokal dari pemuda Desa Panjalu.

Bagaimana akses ke Situ Lengkong dari Ciamis?

Situ Lengkong berjarak sekitar 35–41 km dari Kota Ciamis, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum selama 45 menit hingga 1,5 jam. Kawasan wisata buka 24 jam setiap hari.

Apa saja kuliner khas Panjalu?

Kuliner khas Panjalu meliputi Jawadah Takir (camilan tepung beras dengan kemasan kararas), Kalua Jeruk (olahan kulit jeruk bali), Saroja (kudapan berbentuk kembang seroja), dan Kerupuk Endoy. Tersedia di gerai UMKM sekitar kawasan wisata dengan harga Rp5.000–Rp25.000.

Apakah Nusa Gede boleh dikunjungi?

Hanya area pemakaman Prabu Hariang Kancana yang diizinkan untuk ziarah. Kawasan inti cagar alam tidak dibuka untuk kunjungan wisata umum. Wisatawan diharapkan berpakaian sopan dan mengikuti arahan kuncen.

Mengapa Artikel Ini Berbeda

Website Desa Panjalu sudah memiliki artikel tentang sejarah, panduan santai, pengalaman unik, dan kebersihan Situ Lengkong. Artikel ini mengisi celah yang belum tergarap, yaitu bagaimana wisata, tradisi, dan ekonomi warga saling terkait. Dengan demikian, ia tidak hanya mengundang orang untuk datang. Lebih dari itu, artikel ini juga menjelaskan mengapa datang ke wisata Situ Lengkong Panjalu berarti ikut merawat sesuatu yang lebih besar dari sekadar liburan.

Prestasi Desa Panjalu sebagai Juara 1 Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting Tingkat Jawa Barat 2026 dengan total skor 140,92 adalah bukti bahwa tata kelola desa yang baik membawa manfaat nyata. Selain itu, prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan wisata yang tepat berkontribusi pada kesejahteraan warga. Desa Panjalu kini melangkah ke tingkat nasional sebagai perwakilan Jawa Barat.

Situ Lengkong bukan hanya danau. Ia adalah sistem kehidupan. Dan setiap wisatawan yang datang dengan kesadaran itu adalah bagian dari sistem tersebut.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *